Sabtu, 15 Oktober 2011

cerpen nana - teman biasa

Clarisa. Begitulah ia kerap disapa. Ia adalah siswi baru di SMA 03 Yogyakarta. Ia merupakan gadis yang anggun, sopan, pandai, dan merupakan siswi yang teladan di sekolah lamanya.
Setiap ia masuk di kelas, ia menyempatkan diri untuk membaca al-qur’an kecil miliknya. Berlembar – lembar ia baca. Hingga bel masuk berbunyi, ia baru mengakhiri bacaannya.
Guru bahasa Indonesia masuk. Guru mengadakan ulangan dadakan. Guru membagikan soal ulangan. Murid – murid mengerjakan dengan tenang.
Satu jam mata pelajaranpun terlalui oleh tanda bel sekali. Siswa dan siswi segera mengumpulkan pekerjaannya. Karena waktu masih ada, guru mengoreksinya segera dan memberikan hasil mereka.
“Dari pekerjaan kalian semua, ada dua siswa yang mendapat nilai tertinggi, dan satu siswa yang terburuk.” ujar guru bahasa Indonesia.
“Siapa Pak? Siapa?” tanya hampir seluruh siswa penasaran.
“Untuk nilai terbaik di raih oleh Clarissa dan Dhafa. Untuk Reno, nilai kamu ini paling jelek, tingkatkan lagi ya belajar mu!” pesan guru.
“Ya Pak,” sahut Reno meng-iyakan pesan dari guru dengan wajah yang tertunduk malu.
“Huuu…!!! Si culun nilainya paling jeblok!!! Biasanya kalau culun itu pinter, lha ini malah lawan katanya…!! Hahaha…” tawa Ricky orang paling cerewet di kelas X-2. Pelajaran masih berlangsung, selang beberapa menit kemudian bel istirahatpun berbunyi. Clarissa segera beranjak ke mushola untuk menunaikan shalat dhuha. Selama Clarissa shalat, Ecky selalu memperhatikannya.
Hebat tu cewek, di tengah – tengah sibuknya urusan sekolah masih aja bisa shalat. Udah manis, cantik, pintar, solikhah pula, hebat!!!
Ujar Ecky dalam hati. Tiba – tiba dari belakang Ricky mengkagetkan Ecky yang sedang melamun sambil tersenyum – senyum sendiri.
“Woi!! Hayoo, ngeliatin siapa? Pasti cewek alim mantan pondok itu ya?”
“Astaghfirullah!!!”
“Yah, tumben nyebut! Ketularan cewek alim itu ya??!! Atau jangan – jangan kamu suka sama dia, jadi kamu ikut – ikutan alim…”
“Yee, kata siapa aku suka sama tu cewek?”
“Kata hatiku, dan firasat ku berkata bahwa kamu suka sama tu cewek. Ya kan? Udah deh, ngaku aja, gak usah malu – malu.”
“Ah, gak kok, ngaco aja sih kamu Ric!!”
“Udahlah, aku itu shabat mu. Jadi aku tau gerak gerik mu kalau lagi suka sama cewek.” oceh Ricky. Tiba – tiba Clarissa keluar dari mushola.
“Permisi, assalamu’alaikum.” Salam Clarissa pada mereka berdua.
“Wa’alaikumsalam.” Jawab mereka berdua hampir bersamaan. Clarissapun lewat di depan mereka. Tiba – tiba Ecky menarik lengan Clarissa. Clarissapun marah – marah.
“Heh, kamu ngapain sih!! Jangan pegang aku bisa gak?! Kita ini bukan muhrim.”
“Sorry Riss, aku lupa.”
“Ya, tapi jangan di ulangi lagi. Ada perlu apa?”
“Gini Riss, aku mau ngomong sesuatu.”
“Ya ngomong aja lah, apa susahnya.”
“Bukan gitu Riss, aku mau ngomong, tapi gak disini.” Ucap Ecky gugup.
“Ya lalu dimana?”
“Ntar aja gimana, pas pulang. Ntar kita jalan bareng.”
“Ya deh, udah kan?”
“Ya, ya, udah..” sahut Ecky. Clarissapun segera kembali ke kelas.
***
Bel pulang bersahut – sahutan. Siswa siswi berhamburan keluar kelas. Eckypun segera menghampiri Clarissa.
“Ayo pulang Riss!!”
“Ayo, tadi kamu mau bilang apa Ky?” tanya Clarissa sambil berjalan.
“Jadi gini Riss, aku mau ngomong sesuatu yang mungkin menurut mu tidaklah penting.”
“Apaan?”
“Tentang perasaan ku Riss…”
“Emangnya perasaan mu kenapa Ky?”
“Aku sebel sama someone Riss,”
“Kenapa sebel?” tanya Clarissa bingung.
“Ya karena ada sesuatu.”
“Emang seseorangnya itu siapa Ky?”
“Kamu.”
“Aku? Emang kenapa kamu sebel sama aku? Aku punya salah apa sama kamu?”
“Ya aku sebel sama kamu, karena kayaknya aku suka sama kamu Riss, aku senang betul sama kamu Riss, mau gak jadi cewek ku?”
“Sorry gak bisa jawab sekarang. Assalamu’alaikum.” Ucap Clarissa datar sambil mengambil langkah cepat menuju rumah dan meninggalkan Ecky. Ecky hanya diam melihatnya berlalu menuju kediamannya.
***
Di rumah. Clarissa menangis dan membaringkan badannya di ranjang. Iapun di datangi oleh ibunya.
“Ada apa Ris?”
“Ibu!!!” ujarnya sambil memeluk ibunya.
“Kenapa? Tumben kamu nangis,”
“Ibu, Rissa gak suka pacaran!”
“Ya bagus dong Riss,”
“Tapi bu, ada seorang cowok yang meminta ku untuk jadi ceweknya bu. Aku gak suka!!”
“Oh gitu ya, ya udah kalau kamu gak suka, ya bilang sejujur – jujurnya sama teman kamu itu. Bilang kalau kamu gak suka yang namanya pacaran.”
“Iya deh bu. Makasih ya,”
***
Keesokan harinya di sekolah, Ecky mencari – cari keberadaan Clarissa.
“Ric, liat Clarissa gak?”
“Tadi dia ke mushola,”
“Thanks Ric.” ujarnya pada Ricky. Lalu ia berlari ke mushola. Sesampainya di mushola,
“Clarissa!!!” teriaknya memanggil – manggil Clarissa. Lalu Clarissa keluar dengan wajah di tekuk – tekuk.
“Kamu tu,di mushola gak boleh teriak – teriak!!! Mushola itu tempat ibadah!!”
“Iya sorry. Tapi aku butuh jawaban mu sekarang Riss!!” pinta Ecky.
“Sorry Ky, sebenarnya aku gak suka dengan yang namanya pacaran. Aku masih mau fokus belajar Ky. Aku gak mau pikiranku jadi kacau cuma gara – gara pacaran. Lagi pula pacaran itu juga di larang agama, karena sifatnya mendekati zina. Kita temenan aja kan malah lebih happy Ky, jalan sama siapa aja bisa lebih enjoy. Ya gak?!”
“Beneran tu Riss?”
“Ya bener lah masak bohong, aku lebih mementingkan study ku daripada pacaran. Pacaran itu hanya membuang – buang waktu saja.”
“Ya udah deh Riss, yang penting aku masih bisa berteman sama kamu. Aku udah happy kok.” ujar Ecky sambil tersenyum.
“Nah, gitu dong.” Ucap Clarissa sambil pergi berlalu meninggalkan Ecky yang masih berdiri di depan kelas.

~SEKIAN~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar