Arfi menggeliak melihat ayahnya berpamitan padanya. Ayahnya yang begitu sempurna di mata Arfi, tiba – tiba berpamitan padanya.
“Arfi, ayah pergi dulu ya,”
“Mau kemana yah?”
“Jauh…”
“Arfi ikut dong yah, masak Arfi dan bunda di tinggal sendiri.”
“Kamu udah besar, masak masih ngikut ayah terus. Kamu jaga bunda ya?”
“Ah pokoknya Arfi ikut yah.”
“Jangan Fi, ayah mau pergi jauh.”
“Ikut!!” ucap Arfi sambil mengambil tangan ayahnya. Tapi ayahnya segera melepaskan genggaman tangan anaknya. Dan ayahnya makin lama makin menjauh, Arfi mengejarnya.
“Ayah!!!” teriak Arfi sambil masih mengejar Ayahnya. Tapi percuma, Ayahnya tetap menjauh, semakin jauh, jauh, dan hilang.
“Ayah!!!” sentak Arfi yang tiba – tiba terbangun dan berkata pada dirinya sendiri.
“Huh, untung cuma mimpi. Gak mungkin lah Ayah pergi tanpa aku?! Ah, itu Cuma mimpi Arfi, mimpi!!!” ucapnya pada dirinya sendiri.
***
Di sekolah, Arfi masih memikirkan mimpi tadi. Tiba – tiba Sinta mengagetkannya.
“Woi, bengong aja!”
“Eh, Sinta! Bikin kaget aja!”
“Ngapa sih kok bengong? Cerita dong,”
“Gini lho Sin, aku bingung sama mimpiku semalem.”
“Emang kamu mimpi apa?”
“Tadi malem aku mimpi kalau ayahku mau pergi jauh, aku gak di bolehin ikut. Lalu ayah makin lama makin jauh, terus hilang. Artinya apa ya Sin?”
“Yah, masih percaya aja sama yang begituan. Gak banget deh,”
“Lho umpama aja bisa jadi kenyataan…” ujar Arfi mempertahankan pendapatnya.
“Alah, bunga tidur aja kamu permasalahin Fi. Biarin berlalu ngapa!!”
“Ah, tau’ ah Sin. Ngomong sama kamu bikin emosi aja!!”
“Makanya kalau nikin emosi, ya gak usah cerita sama aku.”
“Tadi yang nyuruh cerita sipa coba? Kamu kan…”
“hehehehe… iya ya, tau’ ah Fi. Mending baca komik ini, edisi terbaru lho Fi,”
“Edisi berapa?” ujar Arfi pada Sinta.
“Ni, edisi 74. Tapi yang cerita ‘pangeran kaca mata’ udah tamat.” Ucap Sinta pada Arfi dengan ekspresi wajah cemberut.
“Masak udah tamat sih? Duh, padahal kan keren,” ujar Arfi dengan wajah yang cemberut pula.
“Keren ceritanya apa orangnya?”
“Hehehe, ya dua – duanya lah. So sweet banget tau’ gak ceritanya. Pinjem dong Sin?”
“Yah, capsil(cap silihan)…”
“Biarin, yang penting tau ceritanya.”
“Nanti ya sob, ni yang ngantri udah orang banyak. Kalau mau pinjem cepet, kamu baca pas guru nerangin.”
“Oke, aku pinjem ya ntar?”
“Oke,” ucap Sinta meng-iyakan. Merekapun masuk ke dalam kelas.
***
Jam pulang sekolah tiba. Arfi mencari letak keberadaan Sinta. Setelah dapat,
“Sin, Sinta?” panggil Arfi dengan nada tinggi.
“Apa?” ucap Sinta seraya mendekat pada Arfi.
“Maen ke warnet yuk?”
“Ngapain? Kan di rumah mu udah ada computer sama laptop,”
“Ah males di rumah mulu Sin, cari suasana baru dong.”
“Oke deh, tapi yang bayar?” tanya Sinta.
“Aku, tenang aja.”
“Ya kalau kamu yang bayar sih aku oke – oke aja. Yuk pulang?”
“Alah, maunya. Yuk…” ujar Arfi pada Sinta sambil tersenyum. Merekapun segera pulang.
Sore harinya di warnet.
“Aku masih bingung sama mimpi ku semalem Sin,”
“Ngapain bingung? Udah deh Fi, mendingan kamu buka informasi tentang sejarah – sejarah uang. Kan ekonomi ada tugas.”
“Iya juga ya, ntar sekalian di print ya,”
“Ya.” Ujar Sinta singkat. Mereka mencari – cari tentang sejarah uang.
Jam telah menunjukkan pukul empat sore. Merekapun segera mencetak tugas yang telah mereka download. Saat menunggu, handphone Arfi bordering melantunkan lagu ‘Heal The World’ lagu yang di nyanyikan Michael Jackson. Arfi pun menerima panggilan tersebut.
“Hallo Bunda? Ada apa Bunda?”
“Fi, kamu dimana?”
“Arfi di warnet bun, buat tugas.”
“Cepat ke rumah sakit ya nak?”
“Ya bun, tapi kenapa bun?”
“Ayah, jantungnya kumat. Cepat ya, Bunda tunggu.”
“Innalillahi, iya bun. Assalamu’alaikum?”
“Wa’alaikumsalam.”
Arfipun segera mengajak Sinta menuju rumah sakit. Baru sampai setengah perjalanan, handphone Arfi berdering lagi.
“Hallo Bunda? Ada apa lagi? Ini Arfi baru setengah perjalanan.”
“Ayah Fi, Ayah…” ucap Bunda dengan nada yang terbata – bata.
“Iya Ayah kenapa Bunda?” tanya Arfi dengan perasaan campur aduk.
“Ayah udah gak ada Fi,” tangis Bundapun menggetarkan jiwa Arfi.
“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Iya bun, Arfi segera kesana.”
“Iya, cepat ya Nak?”
“Iya Bun,”
Pembicaraan pun terhenti. Arfi melanjutkan perjalanan ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Arfi segera menuju ruangan dimana Ayahnya dirawat.
Di ruangan Ayahnya. Arfi melihat jenazah yang telah dibalut oleh kain kafan yang putih nan suci. Air mata Arfi menetes dan membasahi pipi Arfi.
“Yang sabar ya Fi.” Ucap Sinta sang sahabat sambil memegang bahu Arfi.
“Bunda…” ucap Arfi seraya memeluk sang Bunda. Merekapun hanyut dalam tangis.
***
Keesokan harinya. Penguburan Ayah Arfi dilaksanakan, ketika saudara – saudara Arfi hendak melihat wajah terakhir Ayah Arfi, Arfipun menangis histeris. Tante Arfipun menenangkannya.
“Sudah Fi, jangan di tangisi. Percuma kamu menangis, toh Ayahmu tidak akan hidup kembali.”
“Tapi tante, aku sayang sama Ayah. Aku gak mau Ayah pergi. Aku ingin Ayah disini sama aku dan Bunda, forever!!” tangis Arfi dengan nada yang terbata – bata.
“Fi, sudah dong! Dengerin tante!! Semua ciptaan Allah itu, kelak akan kembali pada Allah lagi. Begitu pula dengan Ayah kamu. Sudah ya Fi.”
“Tapi aku masih belum ikhlas Ayah pergi tante,”
“Itu sudah takdir Allah sayang. Kamu do’akan beliau saja agar di terima disisi-Nya.”
Arfi hanya mengangguk. Setelah menunggu Arfi diam, penguburanpun dapat di laksanakan dengan lancar.
Ketika Arfi mulai masuk sekolah, Arfi hanya diam beribu bahasa.
“Fi, Arfi… kamu gak kenapa – kenapa kan?”
Arfi menggeleng.
“Kalau gak ada apa – apa, ngapain kamu bengong?”
Arfi hanya menggeleng lagi.
“Fi, kalau ada masalah, curhat dong! Jangan diem aja kayak gini.”
Arfi menghela nafas panjang. “Sin, apa arti dari mimpiki yang dulu itu ya?”
“Mimpi yang mana?”
“Yang aku certain seminggu yang lalu,”
“Iya, terus?”
“Kayaknya kejadian kemarin itu deh arti dari mimpi ku.”
“Arti? Kejadian? Kejadian yang mana?”
“Kejadian saat Ayahku meninggal.”
“Lho, apa hubungannya Fi?”
“Yak an di mimpi ku itu Ayah pamitan sama aku mau pergi jauh, mungkin aja Ayah pamitan sama aku lewat mimpi. Mungkin itu arti dari mimpi ku Sin,”
“Mungkin juga ya Fi. Ya udah, kamu yang sabar aja. Jangan nangis lagi, do’ain aja, oke?”
Arfi tersenyum dan mengangguk.
***
Kini Arfi telah mampu mengikhlaskan kepergian Ayahnya kealam kubur.
“Sin, makasih ya. Atas nasehat – nasehat darimu, aku sekarang udah bisa ikhlasin Ayah pergi.”
“Sama – sama Fi. Benerkan kata tante mu, kamu pasti bisa ikhlasin kepergian Ayahmu.” Ujar Sinta sambil tersenyum. Lalu di ikuti oleh Arfi. Bunda yang hanya melihat Arfi tersenyumpun bahagia, meskipun batinnya tersiksa.
~SEKIAN~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar