“Kring…kring…” suara telfon memanggil – manggil. Akupun segera menerimanya.
“Hallo, assalamu’alaikum. Ada yang bisa saya bantu?”
“Wa’alaikumsalam. Bisa bicara dengan Orchid?”
“Ya, saya sendiri. Siapa ya?”
“Ni aku Chid, Jasmine.”
“O, kamu. Ada apa mine?”
“Chid tolong izinin aku ya?”
“Emang kamu kenapa?”
“Aku sakit seperti biasa Chid. Aku kan gampang sakit.”
“Oh, ya deh. Gampang.”
“Ya udah gitu aja ya Chid, aku mau istirahat dulu. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.” Akupun segera menutupnya. Dan segera bersiap untuk berangkat ke sekolah.
***
Setibanya di sekolahan, aku segera duduk di bangku ku. Akupun memutar otak dan sebuah pertanyaan melintas di fikiran ku.
Kenapa ya Jasmine sering sakit – sakitan? Sakit apa sih dia?
Ujar ku dalam angan. Tiba – tiba Sandy datang menghampiriku.
“Hai Chid, kok sendiri?”
“Eh, Sandy. Iya nih, soalnya Jasmine sakit.”
“Kamu udah aku certain belum tentang Jasmine dan kak Betty?”
“Belum, emang tentang apa?”
“Gini lho, waktu mau pelantikan OSIS angkatan kita, kak Betty anak kelas Sembilan itu. Dia cerita sama aku.”
“Bilang apa?”
“Katanya, dia punya felling kalau mau jadi ketua OSIS.”
“Yah, Ge-eR amat kak Betty.”
“Terus katanya dia pengen Jasmine jadi OSIS. Tapi katanya kak Betty, Jasmine punya penyakit jantung. Jadi kak Betty pengennya dia kerjanya di kabid yang gak berat gitu.”
“Tapi, masak penyakit jantung Ndy?”
Sandy hanya menganggukkan kepala. Aku menatap lurus kedepan. Kosong. Akupun meyakinkan lagi perkataan Sandy tadi.
“Beneran gak sih Ndy?”
“Iya, tapi kata kak Betty. Gak tau juga bener atau gak.”
“Emm, ya.” Kata ku sambil menganggukkan kepala. Aku bingung tujuh keliling. Jantung? Itu penyakit yang parah. Aku khawatir pada Jasmine. Tapi aku mencoba untuk seolah – olah tidak pernah tau apa yang di alami oleh Jasmine.
***
Suatu hari, temanku Ririn dan Lily menghampiriku untuk belajar bersama di rumah ku.
“Hai Chid?” sapa Lily.
“Hai…” balasku.
“Ntar kita boleh gak belajar bareng di rumahmu?”
“Boleh aja, kapan?”
“Jam tiga habis sholat ashar ya?”
“Oke, aku tunggu ya…” jawabku singkat. Mereka menganggukkan kepala. Lalu pergi meninggalkan ku.
***
Sore harinya, mereka benar datang ke rumah ku. Di rumahku, kami belajar bersama. Sesaat kemudian, Lily bertanya pada ku.
“Lho, Jasmine gak ikut?”
Aku hanya menganggukkan kepala.
“Lho biasanya kamu belajarnya kan sama dia. Kok ini gak?”
“Kan dia sakit. Eh tapi Ama ikut, gak apa apa kan?”
“Ya gak apa apa. Eh Jasmine sakit?”
Aku kembali menanggukkan kepala.
“Eh, katanya dulu dia sakit jantung…”
“Aku udah tau.”
“Iya, kasihan lho, waktu kita masih kelas tujuh dulu dia sering kumat terus sakitnya.” Jelas Lily. Aku hanya mendengarkan. “Kalau nangis langsung tersedu – sedu. Kasihan lho Chid.” Tambahnya lagi.
Tiba – tiba Ama muncul dan mengagetkan kami bertiga.
“Woi!!! Hayo, pada ngomongin siapa?”
“Jasmine.” Jawab Ririn.
“Owh, Jasmine. Dia punya penyakit jantung kan?”
“Iya, kok kamu tahu?” tanyaku.
“Ya tahu lah. Dia aja dulu sering kumat terus di bawa ke UKS. Dan pasti di jenguk sama kak Betty dan kak Zahra.”
“Iya. Udah banyak kok Chid yang tahu.” Tambah Lily.
“Gimana dong, aku semakin khawatir sama dia. Tapi aku gak mau dia tahu kalau sebenarnya aku udah tahu semuanya. Gimana nih?”
“Ya udah, kamu semakin perhatian sama dia dan selalu ada buat dia aja. Gitu namanya sahabat.” Jawab Ama member solusi.
“Ya, aku usahain.”
“Eh, ayo belajar lagi. Malah cerita Jasmine.” ujar Ririn.
“Iya, iya…” jawab ku, Lily, dan Ama hamper bersamaan. Kamipun segera belajar kembali.
***
“Kring…kring…” telfon memanggil – manggil. Aku segera berlari menujunya dan menjawabnya.
“Halo, assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam. Ini Orchid?”
“Iya, ni siapa ya?”
“Ini aku Sandy.”
“Ngapa Ndy?”
“Jasmine Chid. Jasmine.” Suaranya tersendat – sendat oleh tangisan.
“Jasmine kenapa Ndy?”
“Jasmine masuk rumah sakit Chid.”
“Masuk rumah sakit? Rumah sakit mana?”
“Rumah sakit Sehat Sentausa, di melati 5. Ku tunggu ya Chid…”
“Ya,” pembicaraanpun terputus. Aku segera berangkat menuju rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Sandy pun berkata padaku.
“Terlambat Chid, terlambat.”
“Apanya yang terlambat Ndy?”
Sandypun menunjuk disuatu ranjang yang di kerumuni oleh banyak orang. Dan saat orang – orang itu melihatku, mereka menyingkir. Akupun berjalan menuju ranjang itu, dan membuka kain putihnya agar aku bisa melihat wajah orang itu dan…
“Jasmine, jasmine bangun!! Bangun Mine!! Jangan tinggalin aku!!!”
“Sudah Chid, percuma, Jasmine juga tidak mungkin hidup kembali.” ucap Sandy menenangkan ku. Aku masih menangis tersedu – sedu. Tiba – tiba ada seorang wanita. Cantik, anggun, dan sopan. Dia ibu Jasmine. Ibu Jasmine menghampiriku.
“Ini Orchid?”
“Iya Bu,”
“Orchid, ini dari Jasmine…” ucapnya sambil memberikan sepucuk surat dari Jasmine. Akupun membacanya.
Teruntuk sahabatku…
Chid, mungkin saat kau baca surat ini aku udah tiada. Sorry aku gak pernah cerita sama kamu…
Sebenarnya aku punya penyakit jantung stadium 4. So, sorry ya Chid, aku cuma gak mau buat kamu resah dan khawatir tentang penyakitku ini. Sekali lagi sorry ya Chid?
Jangan lupa do’ain aku ya Chid? Aku disini selalu menunggu kiriman do’a dari mu. Dan jangan lupain aku ya Chid? Miss you…
Sahabatmu
Jasmine
Air mataku pun meleleh. Deras sekali. Ingin rasanya ku putar waktu kembali. Tapi kini kau telah pergi jauh sahabat. Aku akan selalu mengenangmu sahabat. Dan akan selalu mendo’akan mu sahabat. Semoga kamu tenang di sisi-Nya. Selamat jalan sahabatku. Selamat tinggal.
~SEKIAN~