Rabu, 23 Mei 2012

Dua Cinta Antara Tembok Kelas


Mentari siang hari seakan menampar dunia. Menembus genting-genting yang senantiasa menjaga manusia yang berada dibawahnya. Hingga membuat butiran keringat menetes dibadanku. Alunan nada guru yang memberikan materi menembus liang telingaku dan memukul gendang telinga ini, kemudian diteruskan keberbagai organ pendengaran dan sampailah ke otak.
“Kok nggak selesai-selesai ya Na?” tanya ku pada Luna.
“Sabar dong Fit, sepuluh menit lagi kok.” jawab Luna. Aku kembali terdiam menatap kosong kedepan. Aku tak dapat mengkonsentrasikan otak ini ke pelajaran yang sedang ku hadapi. Fikiranku sedang tertuju pada satu rasa, yaitu cinta. Setelah ku alami patah hati yang menaun, kini ku hendak mencoba untuk membuka hati dan  memberi kesempatan pada orang yang tulus mencintaiku.
Teet…tettt… bel istirahat melantunkan iramanya. Aku tersadar dari lamunanku tentang cinta. Aku memilih duduk-duduk di dalam kelas bersama Selly, Luna, dan Dina. Hanya duduk memainkan handphone yang ada di tangan ku.
“Nggak ada sms dari mas mantan nih, hehe.” keluhku pada ketiga sahabatku dengan nada bercanda.
“Ah kamu ni Fit, dulu pingin putus, pas udah putus malah ngarepin dia lagi.” komentar Dina.
“Hehe, iya sih. Udah lah, orang aku cuma bercanda, hehe.” ujarku mempertahankan ucapanku dahulu. Aku kembali memainkan tombol-tombol handphoneku, hingga tanpa sadar terangkai sudah nomer hp mas Diko mantanku.
“Ah, mungkinkah aku masih mengharapkannya? Lupakan Fita, lupakan dia!” ucapku dalam batin. Ku merapikan kembali hati dan fikiranku agar sejalan. Tiba-tiba seseorang memanggilku dari balik tembok kelas ini, ku lihat dari jendela siapa yang memanggilku. Ah, ternyata Zainal.
“Ada apa Zain?” tanyaku padanya.
“Emm, ada sesuatu… Emm, yang mau aku… Bicarakan… Padamu.” ucapnya dengan suara yang sedikit terputus-putus karena gugup.
“Ya ngomong aja dong Zain,”
“Nggak bisa kalo disini, ramai.” ucapnya sambil melihat ke sekelilingnya.
“Nggakpapa Zain, ini lumayan sepi kok.”
“Emm, baiklah. Aku bener-bener suka sama kamu Fit, percaya deh. Kamu mau kan jadi cewek ku? Aku nggak pengen kamu tolak lagi,” ujarnya dengan cepat dan wajah yang penuh dengan keringat. Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya yang sering dia ucapkan padaku.
“Masuk kelas dulu sini, aku omongin something.” ujarku memintanya untuk masuk ke dalam kelas, masak ngobrol tentang hati kok terhalang tembok. Dengan langkah mantap, Zain masuk kedalam kelas dan menuju ke bangku belakangku. Ia duduk dan menatapku penuh harap.
“Kamu mau jawaban YA, atau TIDAK?” tanyaku dengan sedikit menekan kata YA dan TIDAK.
“Yaa, ya aku sih pengennya kamu jawab YA. Aku hampir putus asa karena kamu tolak terus.”
Aku diam sejenak, mencoba memutar otak untuk jawabanku kali ini. Antara ya dan tidak. Jika ku tidak bangkit dalam keterpurukanku, bagaimana aku kelak jalani hidup? Aku tak mungkin hanya menaruh harapan yang tak pasti kan terwujud. Mungkin aku harus mencoba untuk suka pada Zainal. Aku harus mampu membuka hati untuk lainnya. Ya, mungkin inilah jawabannya.
“Oke, kita jalani aja deh Zain. Biarkan mengalir seperti air. Rasa itu bisa saja kan datang karena terbiasa.” ujarku tenang dan mantap. Senyum manis yang tlah lama lenyap, saat ini dapat mengembang diwajahku. Ku coba untuk cintai dia.

~SELESAI~

Jumat, 06 Januari 2012

cerpen nana - Love False

Panggil saja dia Zah. Lengkapnya adalah Zahra. Ia adalah seorang siswi di PonPes Az-Zahra, di daerah Jakarta Selatan. Ia berparas cantik, dan dia pun berperilaku lembut. Ia memiliki suara nan indah ketika ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Suara merdunya mampu menyihir para santriawan PonPes putra Az-Zahra.
Suatu hari ketika Zah berangkat sekolah, ada salah satu siswa PonPes putra Az-Zahra menghampiri Zah.
“Hai Zah, berangkat bareng yuk!” ajak siswa yang bernama Dhaffa.
“Eh Fa, ya boleh. Ayo!” ujar Zah mengiyakan. Sambil menikmati perjalanan ke sekolah di bus, Dhaffa bertanya banyak hal kepada Zah.
“Zah,”
“Ya?”
“Kamu pernah pacaran?”
“Pernah Fa, kenapa?”
“Nggak papa kok, berapa kali ?”
“Sekali.”
“Nggak nyari lagi? Aku mau kok daftar, hehe.”
“Hehe, bercanda aja sih kamu. Lagi nggak pengen nyari kok Fa.”
“Eh, aku nggak bercanda Zah. Dari dulu aku selalu serius ngomong gini ke kamu.”
“Belum tahu Fa.”
“Ya udah, kamu boleh mikir mikir dulu kok. Dari dulu sampai sekarang, atau sampai kapanpun, aku akan selalu menunggu jawaban YA dari kamu.”
Zah hanya tersenyum menanggapi ucapan Dhaffa yang terlalu sering ia ungkapkan itu. Hingga akhirnya bus berhenti di muka gerbang sekolah. Zah dan Dhaffa segera turun dari bus dan masuk menuju ke kelas masing-masing.
***
Di PonPes, Zah sedang berkumpul dengan para siswi sekamarnya di kamar. Mereka saling bertukar cerita satu sama lain.
“Zah, kemarin Dhaffa bilang sama aku, kalo dia suka berat sama aku!” tutur Lussi bercerita.
“Hehehe, nggak usah di tanggapi. Dari dulu dia juga udah bilang sama aku kalo dia naksir berat sama aku, tadi dia juga bilang gitu sama aku pas berangkat sekolah. Tapi nggak tak gagas.” ujar Zah mengomentari.
“Wah, bahaya nih kalo ada cowok yang kayak gitu. Jangan-jangan dia player lagi??” ujar Nura memberi komentar juga. Suasana hening sejenak. Semua saling bertatapan. Lalu tiba-tiba Lussi berkata,
“Gimana kalo kita buat dia kapok?”
“Kapok? Gimana caranya Lus?” tanya Zah kurang mengerti maksud dari pembicaraan Lussi.
“Ya caranya, waktu kamu di tembak Dhaffa, kamu terima dia. Lalu, suatu saat kamu putusin dia, terus gentian aku yang gituin dia.” ucap Lussi sambil tersenyum lebar.
“Kayak gitu caranya?” ujar Zah sedikit ragu.
“Iya lah, deal?” tutur Lussi.
“Deal!!” tambah Nura. Zah masih diam dalam bimbang. Ia bingung dengan keputusan apa yang harus ia perbuat. Ia tak biasa membuat orang sakit hati. Namun dengan berat hati, Zah pun berkata,
“Deal…” dengan suara lirih.
“Nah, gitu dong Zah. Jawab gitu doang mikirnya setahun.” ujar Nura. Lussi tersenyum. Zah masih membisu seolah menyesal dengan apa yang ia ucapkan. Lalu Zah segera pergi dari kamar.
***
Malam segera datang bersama ribuan juta bintang di langit dan satu bulan yang menerangi. Cahaya bulan seolah menerobos masuk ke dalam celah celah ruang di PonPes Az-Zahra malam ini. Bulan nan indah yang terselimuti gelapnya langit membuat Zah sedikit tersenyum menikmatinya. Ia sedang tak di PonPes saat ini. Ia sedang menikmati indahnya malam bersama rekannya Nura. Namun saat Zah sedang berjalan menuju PonPes,
“Zah,” ucap Dhaffa secara tiba-tiba.
“Eh, kamu Fa. Ada apa?”
“Gimana dengan tawaranku selama ini Zah? Kamu mau nggak jadi pacar aku, untuk mengisi ruang hati ku yang kosong ini?”
“udah, terima aja Zah! Inget kan perjanjian kita?” bisik Nura.
“Iya!” ucap Zah secara lantang. Namun tanpa Dhaffa dan Nura sadari, butiran bening membendung di mata Zah.
“Makasih Zah.” ujar Dhaffa dengan gembira.
“Ya udah, Zah mau pulang dulu ya Fa. Assalamu’alaikum.” ujar Zah dengan mata yang masih membendung butiran air mata. Zah sedikit berlari menuju PonPes. Nura hanya mengekor pada Zah.
Di kamar.
“Kamu kenapa Zah?” tanya Lussi. Zah hanya diam.
“Dia habis terima cintanya Dhaffa, Lus.” jelas Nura.
“Ya bagus dong Zah. Lebih cepat kita buat dia kapok. Ngapain mesti nangis?” tanya Lussi. Zah masih terdiam, namun mulai beranjak meninggalkan kamarnya.
***
Esoknya di sekolah, Zah masih terdiam dengan matanya yang berkaca-kaca. Ia duduk menyendiri di depan kelasnya. Lalu tiga orang sahabatnya menghampiri Zah.
“Zah, lu ngapa sih kok diem?” tanya Zeefa. Zah hanya menggelengkan kepalanya.
“Lu cerita kek ke kita-kita! Sharing gitu.” tambah Arda. Zah hanya merespon dengan senyuman kecutnya.
“Lu kira diem bisa nyelesaiin masalah apa? Kalo lu diem, sama aja lu siksa diri lu sendiri!” tambah pula Nahla.
Sambil menghela nafas, “Oke, gua akan cerita.” ujar Zah.
“Nah, cerita dong Zah.” ujar Zeefa.
“Jadi, gua sekarang lagi pacaran sama cowok yang sama sekali nggak gua suka.” ucap Zah mulai menjelaskan.
“Terus?” ujar Nahla.
“Semua ini menyiksa ku.” lanjut Zah.
“Kenapa lu terima kalo lu nggak suka?” tanya Arda.
“Ini semua terjadi karena sebuah perjanjian. Perjanjian antara gua en temen-temen sekamar gua di pondok...” ujar Zah menerangkan panjang lebar.
“Lu juga sih, ngapain juga lu terima tawaran mereka kalo lu nggak suka? Kayak gini kan yang kasihan si Dhaffa.” ucap Zeefa.
“Iya gua tau kalo gua salah. Gimana cara putusin dia? Gua kasihan sama dia.” ujar Zah.
“Dalam urusan cinta, nggak ada tuh kamusnya kata KASIHAN!! Cinta itu dari hati, bukan karena iba, Zah!” ucap Nahla dengan menekan kata KASIHAN pada Zah.
“Baiklah gua akan berusaha untuk ngomong jujur ke Dhaffa.”
“Nah, gitu dong Zah!” teriak Arda. Zah tersenyum lega.
“Tapi, kalo lu nggak suka Dhaffa lu suka sama siapa dong Zah?” tanya Zeefa.
“Gua suka, Rasya!” ucap Zah sedikit malu malu.
“Ooh, jadi lu suka Rasya!” ucap Nahla dan Zeefa hampir bebarengan.
“Lah, nggak usah lebay deh lu pada! Haha.” ujar Arda. Zah tersenyum sangat lega. Kini permasalahannya dapat terselesaikan.

~THE END~

cerpen nana - my wrong

Kejadian ini dimulai ketika aku bertindak seenaknya saja terhadap uang. Uang yang saat ini sangat ku butuhkan, malah ku sepelekan begitu saja. Sekolahan ku yang kurang aman ini pun menjadi salah satu factor utama kejadian ini.
***
Aku berasal dari keluarga menengah ke bawah. Aku sadar akan kekurangan ku itu. Namun aku tak ingin terlihat rendah dimata teman-teman ku dan guru-guru ku.
Ayah dan ibuku kini tak lagi bekerja. Mereka semakin menua, hingga tak sanggup lagi bekerja untuk menghidupiku. Lalu dengan ikhlas, ke-dua kakak ku mengambil alih peran ayah dan ibu ku. Mereka bekerja demi untuk menghidupiku dan untuk biaya sekolah ku.
Aku senang mengikuti berbagai macam kegiatan. Baik ekskul maupun non-ekskul. Namun ke-dua kakak ku sangat menentang keputusan ku untuk memiliki kegiatan yang full a long day. Dengan usaha ku menabung, aku mampu membiayai jalannya kegiatan-kegiatan itu.
Banyak orang yang benci padaku. Namun tak sedikit pula yang senang pada ku. Layaknya orang hidup di dunia ini, tak ada yang sempurna. Maka jelas saja setiap orang pasti ada yang tidak menyukainya.
Aku mempunyai seorang pacar. Pacar yang tak ku ingin kan. Dia adalah obat dari rasa suka ku ke orang lain yang bertepuk sebelah tangan. Namun ku mencoba untuk benar-benar mencintai pacarku. Dia adalah Nofal. Dia terlalu baik untukku. Bahkan dalam membantuku menyelesaikan problema ini. Dia pun selalu mengingatkan ku ketika aku berbuat salah.
Panggil saja aku Dhena. Aku adalah salah satu cewek dari sekian ribu cewek yang menurutku “temperamental”. Ku akui aku egois. Dan aku selalu ingin tampil lebih dari orang lain. Dan yang membuat ku melambung saat ini adalah jabatan yang ku sandang kini. Aku menjabat sebagai bendahara II OSIS. Wow !!! hidupku serasa bersanding selalu dengan uang.
***
“Dhena? Kamu di tunjuk jadi bendahara I di kelas tadi!” ujar Zee padaku.
“Apa? Gila apa ya? Aku kan udah jadi bendahara di OSIS,”
“Ya nggak tahu, tadi yang nunjuk Pak Sis kok.”
“Huhh, ya udah deh.” ujarku mencoba menerima amanah yang di limpahkan padaku.
Saat istirahat, aku segera menemui Siska teman baikku.
“Ka, gila! Masak aku dijadiin bendahara I di kelas, padahal kamu tahu sendiri kan aku ini udah jadi bendahara OSIS??” ujarku dengan lantang.
“Nikmatin aja dong.” ucap Siska enteng dan tak menggubris ocehan ku.
“Tapi coba kamu jadi aku! Huuhh, bisa gila aku!” ujarku semakin keras. Siska hanya tersenyum merespon ocehanku.
“Huhh, ya udah lah ya! Aku ke kelas dulu!”
Akhirnya akupun memutuskan untuk kembali ke kelas, karena sepertinya Siska tak menggubris omonganku.
***
Berbulan-bulan hidupku berkesinambungan dengan uang. Tak terasa uang yang aku bawa semakin hari semakin menyusut jumlahnya. Entah hilang, entah apa. Dan aku merasa, uangnya hilang!
Saat pelajaran di kelas.
“Dhena Cantika Putri?” panggil Bu Mus, guru biologi.
“Ya, saya Bu?” ujarku seraya tunjuk atap.
“Sini Dhen,” pinta Bu Mus. Akupun segera melangkahkan kaki menuju meja guru di depan kelas.
“Ada apa Bu?” tanya ku.
“Kenapa uang LKS Biologi belum juga kamu bayar kan ke saya ?”
“Maaf Bu, setiap saya mau bayar kan, ibu selalu tidak ada.” Ujarku member alasan.
“Oh ya sudah, kalau bisa secepatnya ya Dhen.”
Aku hanya menganggukkan kepala lalu kembali ke tempat duduk. Bu Mus pun memulai pelajaran hari ini.
Jam pelajaran Biologi usai. Kini saat pelajaran PKn, dan Pak Sis pun beraksi. Aku harus kabur, secara males banget aku menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang di ajukan Pak Sis kepadaku seputar uang. Dan aku lebih memilih bercengkrama dengan teman ku yang jaga di ruang OSIS.
Saat istirahat tiba, Fita menyapa ku seraya berkata.
“Hei, kamu tadi di cariin Pak Sis lhoh! Ngilang kemana kamu?”
“Di ruang OSIS, hehe. Males banget aku ketemu Pak Sis, paling cumin di sodorin sederet pertanyaan seputar uang kelas.”
“Lhoh, emang kenapa Dhen?” tanya Fita agak bingung.
“Ah, nggak kenapa kenapa kok. Udah ah, aku mau ke kantin dulu.” ujarku seraya pergi Fita.
Di kantin, aku bertemu dengan Yona. Dia juga teman baikku. Aku menceritakan semuanya kepada Yona.
“Yon, aku mau cerita.”
“Ya, apa?”
“Uang kelas kan aku yang pegang, entah mengapa uang itu nggak ada semua!”
“Lhoh, kok bisa?”
“Aku juga nggak tahu Yon. coba kamu bayangin deh Yon, masak hilang semua itu kan mustahil banget!”
“Kamu teledor sih kalo bawa duit,”
“Ya kamu jangan nyalahin aku gitu dong Yon! kasih solusi kek atau apa kek, ini malah nyalahin aku! Duh, aku mesti gimana ya?”
“Ya sorry aja, aku nggak tahu.”
“Huh, ya udah deh.” ujarku lalu meninggalkan kantin.
“Lho kamu nggak makan?” tanya Yona.
“Nggak lah, udah nggak mood.” lalu ku pergi dari lokasi.
***
Keesokan harinya, aku kembali enggan untuk bertemu guru guru tertentu. Aku pun memutuskan untuk tidak mengikuti beberapa mata pelajaran yang gurunya bisa dibilang ‘killer’ itu.
“Dhen, kamu kok ada disini?” tanya Siska padaku.
“Aku bolos pelajaran! Hehe,”
“Kenapa?”
“Nggak apa apa, males aja ketemu guru guru tertentu.”
“Rupanya kamu menghindar terus tho Dhen? Kamu nggak inget ya dulu, kamu sukanya nasehatin aku agar aku menghadapi masalah itu, bukannya malah menghindar dari masalah!” tanya Yona yang tiba-tiba berdiri di samping Siska.
“Iya aku tahu, tapi…” pembicaraan ku terpotong, “udah lah, aku lagi buru-buru.” kilahku seraya pergi meninggalkan Siska dan Yona. Aku segera kembali ke kelas, karena bel istirahat telah bernyanyi.
“Dhen, uang kelas sama buku catatannya mana? Aku mau ngecek dulu sama catatan ku.” ujar Zahra, bendahara II di kelasku.
“Duh, lupa nggak aku bawa Ra. Sorry!” ucapku enteng.
“Lupa terus deh perasaan. Eh, tadi Bu Mus nanyain uang LKS mapelnya dia, emang belum kamu bayarin ya?”
Aku hanya menggeleng.
“Kenapa nggak kamu bayar, bayar?” tanya Zahra pula.
Aku diam sejenak. Lalu aku pun meledak, “Uangnya itu hilang Zahra!! Jelas!! Udah lah kamu nggak usah ngurusin aku!! Tenang aja, pasti akan aku ganti!!” ujarku dengan lantang dan meledak ledak penuh amarah dan emosi.
“Tapi itu adalah masalah kelas juga Dhen, kan bisa dibicarakan bersama.”
“Aku bisa atasi sendiri!!!” ucapku, lalu aku segera meninggalkan ruang kelas.
***
Kesalahan ku yang berlarut larut ini, kini mampu menyeretku ke meja persidangan BK sekolahan ku. Dengan disidang oleh tiga orang guru BK yang ‘killer’, mampu menciptakan butiran-butiran bening menetes di pipi ku, karena ku tak mampu untuk membendungnya lagi.
Rasa sesal yang teramat dalam kini ku rasakan begitu pahit, karena ku telah menyepelekan kasus ini. Aku mulai merasakan rasa salah yang begitu menyayat hati.
Kasus mengenai uang ini benar benar mampu membuat ku sedikit gila! Kasus ini adalah kasus terberat yang pernah ku hadapi. Aku berharap, tak aka nada kejadian semacam ini lagi yang menimpaku.
~THE END~

Sabtu, 15 Oktober 2011

cerpen nana - cemburu menguras hati

Hati bersorak gembira ketika ku melihat senyumannya yang ia tujukan kepada ku. Kak Zidan orang yang menawan. Siapa yang nggak jatuh cinta dengan pesonanya. Pintar, alim, ganteng, dan perfect lah pokoknya. Dan aku sadar, ada rasa yang lain di hatiku. Dan rasa itu adalah cinta.
Suatu hari, ku dapati Kak Zidan sedang senyum – senyum seorang diri di teras rumahnya. Ku coba dekati dia pelan – pelan.
“Hayoo, senyam senyum sendiri!!” ujarku mengagetkannya.
“Eh, kamu Mey. Hehehe lagi seneng nih.”
“Seneng kenapa Kak?”
“Habis ketemu pujaan hati Mey,”
“Oh, pacar Kakak ya?”
“Bukan sih, cuma suka aja kok Mey, hehe.”
Ku hanya memberinya respon senyuman kecil dan kecut pada Kak Zidan. Aku pun meninggalkannya pulang tanpa pamit.
“Eh, mau kemana kamu Mey?”
“Mau pulang Kak, mau tidur. Capek!” jawab ku seadanya.
“Oh, iyalah Mey.”
Akupun melanjutkan perjalananku menuju rumah. Hati ini tak karuan rasanya mendengarkan ucapan Kak Zidan bahwa ia telah memiliki pujaan hati tersendiri. Kapan ia tahu bahwa aku sangat suka padanya. Apakah tak ada harapan bagiku tuk bersamanya? Mengapa cinta selalu tak adil padaku? Apa aku tak pantas mendapatkan cinta? Ohh tuhan…
***
Mala mini terasa dingin menyiksaku. Amarah berkobar – kobar di dalam hatiku. Api cemburu membara di hatiku. Perasaan tak karuan pun datang seiring datangnya angin malam yang berhembus tak bersahabat.
Ku tatap handphone milik ku. Sepi. Tak ada pesan masuk satupun. Ku ambil handphone itu. Lalu ku rangkai beberapa kata demi kata. Lalu ku tekan ‘send’ kepada Nayla.
Meyla           :       La? Aku sebel! Aku cemburu!!
Nayla            :       hiks, cemburu kenapa? Aku juga lagi cemburu menguras WC nihh.
Meyla           :       Kak Z La… aku cemburu sama dia! Masak dia bilang dia cemburu sama cwe yang dia           sukai, padahal aku juga cemburu. Cemburu sama dia!!
Nayla            :       Emang cemburu itu sakit banget Mey!!
Meyla           :       Pengen marah – marah La, pengen makan orang deh rasanya!!
Nayla            :       Makan tuh cwe yang disukai Kak Z !! hehehe
Meyla           :       Wah, ide bagus !!
Rasa tak karuan pun hilir mudik di dalam hatiku. Ingin rasanya ku makan cewek itu. Malam ini terasa sangat memuakkan bagiku, hatiku, dan hidupku.
***
Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Aku tak dapat melupakan segala baying tentangnya. Aku tak mengerti akan semua ini. Cinta membuatku sakit hati. Cinta itu tumbuh, tetapi rasa sakit itu terus menjalar dalam hati ini. Ku harap tak berlarut larut.
~SEKIAN~

cerpen nana - teman biasa

Clarisa. Begitulah ia kerap disapa. Ia adalah siswi baru di SMA 03 Yogyakarta. Ia merupakan gadis yang anggun, sopan, pandai, dan merupakan siswi yang teladan di sekolah lamanya.
Setiap ia masuk di kelas, ia menyempatkan diri untuk membaca al-qur’an kecil miliknya. Berlembar – lembar ia baca. Hingga bel masuk berbunyi, ia baru mengakhiri bacaannya.
Guru bahasa Indonesia masuk. Guru mengadakan ulangan dadakan. Guru membagikan soal ulangan. Murid – murid mengerjakan dengan tenang.
Satu jam mata pelajaranpun terlalui oleh tanda bel sekali. Siswa dan siswi segera mengumpulkan pekerjaannya. Karena waktu masih ada, guru mengoreksinya segera dan memberikan hasil mereka.
“Dari pekerjaan kalian semua, ada dua siswa yang mendapat nilai tertinggi, dan satu siswa yang terburuk.” ujar guru bahasa Indonesia.
“Siapa Pak? Siapa?” tanya hampir seluruh siswa penasaran.
“Untuk nilai terbaik di raih oleh Clarissa dan Dhafa. Untuk Reno, nilai kamu ini paling jelek, tingkatkan lagi ya belajar mu!” pesan guru.
“Ya Pak,” sahut Reno meng-iyakan pesan dari guru dengan wajah yang tertunduk malu.
“Huuu…!!! Si culun nilainya paling jeblok!!! Biasanya kalau culun itu pinter, lha ini malah lawan katanya…!! Hahaha…” tawa Ricky orang paling cerewet di kelas X-2. Pelajaran masih berlangsung, selang beberapa menit kemudian bel istirahatpun berbunyi. Clarissa segera beranjak ke mushola untuk menunaikan shalat dhuha. Selama Clarissa shalat, Ecky selalu memperhatikannya.
Hebat tu cewek, di tengah – tengah sibuknya urusan sekolah masih aja bisa shalat. Udah manis, cantik, pintar, solikhah pula, hebat!!!
Ujar Ecky dalam hati. Tiba – tiba dari belakang Ricky mengkagetkan Ecky yang sedang melamun sambil tersenyum – senyum sendiri.
“Woi!! Hayoo, ngeliatin siapa? Pasti cewek alim mantan pondok itu ya?”
“Astaghfirullah!!!”
“Yah, tumben nyebut! Ketularan cewek alim itu ya??!! Atau jangan – jangan kamu suka sama dia, jadi kamu ikut – ikutan alim…”
“Yee, kata siapa aku suka sama tu cewek?”
“Kata hatiku, dan firasat ku berkata bahwa kamu suka sama tu cewek. Ya kan? Udah deh, ngaku aja, gak usah malu – malu.”
“Ah, gak kok, ngaco aja sih kamu Ric!!”
“Udahlah, aku itu shabat mu. Jadi aku tau gerak gerik mu kalau lagi suka sama cewek.” oceh Ricky. Tiba – tiba Clarissa keluar dari mushola.
“Permisi, assalamu’alaikum.” Salam Clarissa pada mereka berdua.
“Wa’alaikumsalam.” Jawab mereka berdua hampir bersamaan. Clarissapun lewat di depan mereka. Tiba – tiba Ecky menarik lengan Clarissa. Clarissapun marah – marah.
“Heh, kamu ngapain sih!! Jangan pegang aku bisa gak?! Kita ini bukan muhrim.”
“Sorry Riss, aku lupa.”
“Ya, tapi jangan di ulangi lagi. Ada perlu apa?”
“Gini Riss, aku mau ngomong sesuatu.”
“Ya ngomong aja lah, apa susahnya.”
“Bukan gitu Riss, aku mau ngomong, tapi gak disini.” Ucap Ecky gugup.
“Ya lalu dimana?”
“Ntar aja gimana, pas pulang. Ntar kita jalan bareng.”
“Ya deh, udah kan?”
“Ya, ya, udah..” sahut Ecky. Clarissapun segera kembali ke kelas.
***
Bel pulang bersahut – sahutan. Siswa siswi berhamburan keluar kelas. Eckypun segera menghampiri Clarissa.
“Ayo pulang Riss!!”
“Ayo, tadi kamu mau bilang apa Ky?” tanya Clarissa sambil berjalan.
“Jadi gini Riss, aku mau ngomong sesuatu yang mungkin menurut mu tidaklah penting.”
“Apaan?”
“Tentang perasaan ku Riss…”
“Emangnya perasaan mu kenapa Ky?”
“Aku sebel sama someone Riss,”
“Kenapa sebel?” tanya Clarissa bingung.
“Ya karena ada sesuatu.”
“Emang seseorangnya itu siapa Ky?”
“Kamu.”
“Aku? Emang kenapa kamu sebel sama aku? Aku punya salah apa sama kamu?”
“Ya aku sebel sama kamu, karena kayaknya aku suka sama kamu Riss, aku senang betul sama kamu Riss, mau gak jadi cewek ku?”
“Sorry gak bisa jawab sekarang. Assalamu’alaikum.” Ucap Clarissa datar sambil mengambil langkah cepat menuju rumah dan meninggalkan Ecky. Ecky hanya diam melihatnya berlalu menuju kediamannya.
***
Di rumah. Clarissa menangis dan membaringkan badannya di ranjang. Iapun di datangi oleh ibunya.
“Ada apa Ris?”
“Ibu!!!” ujarnya sambil memeluk ibunya.
“Kenapa? Tumben kamu nangis,”
“Ibu, Rissa gak suka pacaran!”
“Ya bagus dong Riss,”
“Tapi bu, ada seorang cowok yang meminta ku untuk jadi ceweknya bu. Aku gak suka!!”
“Oh gitu ya, ya udah kalau kamu gak suka, ya bilang sejujur – jujurnya sama teman kamu itu. Bilang kalau kamu gak suka yang namanya pacaran.”
“Iya deh bu. Makasih ya,”
***
Keesokan harinya di sekolah, Ecky mencari – cari keberadaan Clarissa.
“Ric, liat Clarissa gak?”
“Tadi dia ke mushola,”
“Thanks Ric.” ujarnya pada Ricky. Lalu ia berlari ke mushola. Sesampainya di mushola,
“Clarissa!!!” teriaknya memanggil – manggil Clarissa. Lalu Clarissa keluar dengan wajah di tekuk – tekuk.
“Kamu tu,di mushola gak boleh teriak – teriak!!! Mushola itu tempat ibadah!!”
“Iya sorry. Tapi aku butuh jawaban mu sekarang Riss!!” pinta Ecky.
“Sorry Ky, sebenarnya aku gak suka dengan yang namanya pacaran. Aku masih mau fokus belajar Ky. Aku gak mau pikiranku jadi kacau cuma gara – gara pacaran. Lagi pula pacaran itu juga di larang agama, karena sifatnya mendekati zina. Kita temenan aja kan malah lebih happy Ky, jalan sama siapa aja bisa lebih enjoy. Ya gak?!”
“Beneran tu Riss?”
“Ya bener lah masak bohong, aku lebih mementingkan study ku daripada pacaran. Pacaran itu hanya membuang – buang waktu saja.”
“Ya udah deh Riss, yang penting aku masih bisa berteman sama kamu. Aku udah happy kok.” ujar Ecky sambil tersenyum.
“Nah, gitu dong.” Ucap Clarissa sambil pergi berlalu meninggalkan Ecky yang masih berdiri di depan kelas.

~SEKIAN~