Jumat, 06 Januari 2012

cerpen nana - my wrong

Kejadian ini dimulai ketika aku bertindak seenaknya saja terhadap uang. Uang yang saat ini sangat ku butuhkan, malah ku sepelekan begitu saja. Sekolahan ku yang kurang aman ini pun menjadi salah satu factor utama kejadian ini.
***
Aku berasal dari keluarga menengah ke bawah. Aku sadar akan kekurangan ku itu. Namun aku tak ingin terlihat rendah dimata teman-teman ku dan guru-guru ku.
Ayah dan ibuku kini tak lagi bekerja. Mereka semakin menua, hingga tak sanggup lagi bekerja untuk menghidupiku. Lalu dengan ikhlas, ke-dua kakak ku mengambil alih peran ayah dan ibu ku. Mereka bekerja demi untuk menghidupiku dan untuk biaya sekolah ku.
Aku senang mengikuti berbagai macam kegiatan. Baik ekskul maupun non-ekskul. Namun ke-dua kakak ku sangat menentang keputusan ku untuk memiliki kegiatan yang full a long day. Dengan usaha ku menabung, aku mampu membiayai jalannya kegiatan-kegiatan itu.
Banyak orang yang benci padaku. Namun tak sedikit pula yang senang pada ku. Layaknya orang hidup di dunia ini, tak ada yang sempurna. Maka jelas saja setiap orang pasti ada yang tidak menyukainya.
Aku mempunyai seorang pacar. Pacar yang tak ku ingin kan. Dia adalah obat dari rasa suka ku ke orang lain yang bertepuk sebelah tangan. Namun ku mencoba untuk benar-benar mencintai pacarku. Dia adalah Nofal. Dia terlalu baik untukku. Bahkan dalam membantuku menyelesaikan problema ini. Dia pun selalu mengingatkan ku ketika aku berbuat salah.
Panggil saja aku Dhena. Aku adalah salah satu cewek dari sekian ribu cewek yang menurutku “temperamental”. Ku akui aku egois. Dan aku selalu ingin tampil lebih dari orang lain. Dan yang membuat ku melambung saat ini adalah jabatan yang ku sandang kini. Aku menjabat sebagai bendahara II OSIS. Wow !!! hidupku serasa bersanding selalu dengan uang.
***
“Dhena? Kamu di tunjuk jadi bendahara I di kelas tadi!” ujar Zee padaku.
“Apa? Gila apa ya? Aku kan udah jadi bendahara di OSIS,”
“Ya nggak tahu, tadi yang nunjuk Pak Sis kok.”
“Huhh, ya udah deh.” ujarku mencoba menerima amanah yang di limpahkan padaku.
Saat istirahat, aku segera menemui Siska teman baikku.
“Ka, gila! Masak aku dijadiin bendahara I di kelas, padahal kamu tahu sendiri kan aku ini udah jadi bendahara OSIS??” ujarku dengan lantang.
“Nikmatin aja dong.” ucap Siska enteng dan tak menggubris ocehan ku.
“Tapi coba kamu jadi aku! Huuhh, bisa gila aku!” ujarku semakin keras. Siska hanya tersenyum merespon ocehanku.
“Huhh, ya udah lah ya! Aku ke kelas dulu!”
Akhirnya akupun memutuskan untuk kembali ke kelas, karena sepertinya Siska tak menggubris omonganku.
***
Berbulan-bulan hidupku berkesinambungan dengan uang. Tak terasa uang yang aku bawa semakin hari semakin menyusut jumlahnya. Entah hilang, entah apa. Dan aku merasa, uangnya hilang!
Saat pelajaran di kelas.
“Dhena Cantika Putri?” panggil Bu Mus, guru biologi.
“Ya, saya Bu?” ujarku seraya tunjuk atap.
“Sini Dhen,” pinta Bu Mus. Akupun segera melangkahkan kaki menuju meja guru di depan kelas.
“Ada apa Bu?” tanya ku.
“Kenapa uang LKS Biologi belum juga kamu bayar kan ke saya ?”
“Maaf Bu, setiap saya mau bayar kan, ibu selalu tidak ada.” Ujarku member alasan.
“Oh ya sudah, kalau bisa secepatnya ya Dhen.”
Aku hanya menganggukkan kepala lalu kembali ke tempat duduk. Bu Mus pun memulai pelajaran hari ini.
Jam pelajaran Biologi usai. Kini saat pelajaran PKn, dan Pak Sis pun beraksi. Aku harus kabur, secara males banget aku menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang di ajukan Pak Sis kepadaku seputar uang. Dan aku lebih memilih bercengkrama dengan teman ku yang jaga di ruang OSIS.
Saat istirahat tiba, Fita menyapa ku seraya berkata.
“Hei, kamu tadi di cariin Pak Sis lhoh! Ngilang kemana kamu?”
“Di ruang OSIS, hehe. Males banget aku ketemu Pak Sis, paling cumin di sodorin sederet pertanyaan seputar uang kelas.”
“Lhoh, emang kenapa Dhen?” tanya Fita agak bingung.
“Ah, nggak kenapa kenapa kok. Udah ah, aku mau ke kantin dulu.” ujarku seraya pergi Fita.
Di kantin, aku bertemu dengan Yona. Dia juga teman baikku. Aku menceritakan semuanya kepada Yona.
“Yon, aku mau cerita.”
“Ya, apa?”
“Uang kelas kan aku yang pegang, entah mengapa uang itu nggak ada semua!”
“Lhoh, kok bisa?”
“Aku juga nggak tahu Yon. coba kamu bayangin deh Yon, masak hilang semua itu kan mustahil banget!”
“Kamu teledor sih kalo bawa duit,”
“Ya kamu jangan nyalahin aku gitu dong Yon! kasih solusi kek atau apa kek, ini malah nyalahin aku! Duh, aku mesti gimana ya?”
“Ya sorry aja, aku nggak tahu.”
“Huh, ya udah deh.” ujarku lalu meninggalkan kantin.
“Lho kamu nggak makan?” tanya Yona.
“Nggak lah, udah nggak mood.” lalu ku pergi dari lokasi.
***
Keesokan harinya, aku kembali enggan untuk bertemu guru guru tertentu. Aku pun memutuskan untuk tidak mengikuti beberapa mata pelajaran yang gurunya bisa dibilang ‘killer’ itu.
“Dhen, kamu kok ada disini?” tanya Siska padaku.
“Aku bolos pelajaran! Hehe,”
“Kenapa?”
“Nggak apa apa, males aja ketemu guru guru tertentu.”
“Rupanya kamu menghindar terus tho Dhen? Kamu nggak inget ya dulu, kamu sukanya nasehatin aku agar aku menghadapi masalah itu, bukannya malah menghindar dari masalah!” tanya Yona yang tiba-tiba berdiri di samping Siska.
“Iya aku tahu, tapi…” pembicaraan ku terpotong, “udah lah, aku lagi buru-buru.” kilahku seraya pergi meninggalkan Siska dan Yona. Aku segera kembali ke kelas, karena bel istirahat telah bernyanyi.
“Dhen, uang kelas sama buku catatannya mana? Aku mau ngecek dulu sama catatan ku.” ujar Zahra, bendahara II di kelasku.
“Duh, lupa nggak aku bawa Ra. Sorry!” ucapku enteng.
“Lupa terus deh perasaan. Eh, tadi Bu Mus nanyain uang LKS mapelnya dia, emang belum kamu bayarin ya?”
Aku hanya menggeleng.
“Kenapa nggak kamu bayar, bayar?” tanya Zahra pula.
Aku diam sejenak. Lalu aku pun meledak, “Uangnya itu hilang Zahra!! Jelas!! Udah lah kamu nggak usah ngurusin aku!! Tenang aja, pasti akan aku ganti!!” ujarku dengan lantang dan meledak ledak penuh amarah dan emosi.
“Tapi itu adalah masalah kelas juga Dhen, kan bisa dibicarakan bersama.”
“Aku bisa atasi sendiri!!!” ucapku, lalu aku segera meninggalkan ruang kelas.
***
Kesalahan ku yang berlarut larut ini, kini mampu menyeretku ke meja persidangan BK sekolahan ku. Dengan disidang oleh tiga orang guru BK yang ‘killer’, mampu menciptakan butiran-butiran bening menetes di pipi ku, karena ku tak mampu untuk membendungnya lagi.
Rasa sesal yang teramat dalam kini ku rasakan begitu pahit, karena ku telah menyepelekan kasus ini. Aku mulai merasakan rasa salah yang begitu menyayat hati.
Kasus mengenai uang ini benar benar mampu membuat ku sedikit gila! Kasus ini adalah kasus terberat yang pernah ku hadapi. Aku berharap, tak aka nada kejadian semacam ini lagi yang menimpaku.
~THE END~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar