Sabtu, 15 Oktober 2011

cerpen nana - cemburu menguras hati

Hati bersorak gembira ketika ku melihat senyumannya yang ia tujukan kepada ku. Kak Zidan orang yang menawan. Siapa yang nggak jatuh cinta dengan pesonanya. Pintar, alim, ganteng, dan perfect lah pokoknya. Dan aku sadar, ada rasa yang lain di hatiku. Dan rasa itu adalah cinta.
Suatu hari, ku dapati Kak Zidan sedang senyum – senyum seorang diri di teras rumahnya. Ku coba dekati dia pelan – pelan.
“Hayoo, senyam senyum sendiri!!” ujarku mengagetkannya.
“Eh, kamu Mey. Hehehe lagi seneng nih.”
“Seneng kenapa Kak?”
“Habis ketemu pujaan hati Mey,”
“Oh, pacar Kakak ya?”
“Bukan sih, cuma suka aja kok Mey, hehe.”
Ku hanya memberinya respon senyuman kecil dan kecut pada Kak Zidan. Aku pun meninggalkannya pulang tanpa pamit.
“Eh, mau kemana kamu Mey?”
“Mau pulang Kak, mau tidur. Capek!” jawab ku seadanya.
“Oh, iyalah Mey.”
Akupun melanjutkan perjalananku menuju rumah. Hati ini tak karuan rasanya mendengarkan ucapan Kak Zidan bahwa ia telah memiliki pujaan hati tersendiri. Kapan ia tahu bahwa aku sangat suka padanya. Apakah tak ada harapan bagiku tuk bersamanya? Mengapa cinta selalu tak adil padaku? Apa aku tak pantas mendapatkan cinta? Ohh tuhan…
***
Mala mini terasa dingin menyiksaku. Amarah berkobar – kobar di dalam hatiku. Api cemburu membara di hatiku. Perasaan tak karuan pun datang seiring datangnya angin malam yang berhembus tak bersahabat.
Ku tatap handphone milik ku. Sepi. Tak ada pesan masuk satupun. Ku ambil handphone itu. Lalu ku rangkai beberapa kata demi kata. Lalu ku tekan ‘send’ kepada Nayla.
Meyla           :       La? Aku sebel! Aku cemburu!!
Nayla            :       hiks, cemburu kenapa? Aku juga lagi cemburu menguras WC nihh.
Meyla           :       Kak Z La… aku cemburu sama dia! Masak dia bilang dia cemburu sama cwe yang dia           sukai, padahal aku juga cemburu. Cemburu sama dia!!
Nayla            :       Emang cemburu itu sakit banget Mey!!
Meyla           :       Pengen marah – marah La, pengen makan orang deh rasanya!!
Nayla            :       Makan tuh cwe yang disukai Kak Z !! hehehe
Meyla           :       Wah, ide bagus !!
Rasa tak karuan pun hilir mudik di dalam hatiku. Ingin rasanya ku makan cewek itu. Malam ini terasa sangat memuakkan bagiku, hatiku, dan hidupku.
***
Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Aku tak dapat melupakan segala baying tentangnya. Aku tak mengerti akan semua ini. Cinta membuatku sakit hati. Cinta itu tumbuh, tetapi rasa sakit itu terus menjalar dalam hati ini. Ku harap tak berlarut larut.
~SEKIAN~

cerpen nana - teman biasa

Clarisa. Begitulah ia kerap disapa. Ia adalah siswi baru di SMA 03 Yogyakarta. Ia merupakan gadis yang anggun, sopan, pandai, dan merupakan siswi yang teladan di sekolah lamanya.
Setiap ia masuk di kelas, ia menyempatkan diri untuk membaca al-qur’an kecil miliknya. Berlembar – lembar ia baca. Hingga bel masuk berbunyi, ia baru mengakhiri bacaannya.
Guru bahasa Indonesia masuk. Guru mengadakan ulangan dadakan. Guru membagikan soal ulangan. Murid – murid mengerjakan dengan tenang.
Satu jam mata pelajaranpun terlalui oleh tanda bel sekali. Siswa dan siswi segera mengumpulkan pekerjaannya. Karena waktu masih ada, guru mengoreksinya segera dan memberikan hasil mereka.
“Dari pekerjaan kalian semua, ada dua siswa yang mendapat nilai tertinggi, dan satu siswa yang terburuk.” ujar guru bahasa Indonesia.
“Siapa Pak? Siapa?” tanya hampir seluruh siswa penasaran.
“Untuk nilai terbaik di raih oleh Clarissa dan Dhafa. Untuk Reno, nilai kamu ini paling jelek, tingkatkan lagi ya belajar mu!” pesan guru.
“Ya Pak,” sahut Reno meng-iyakan pesan dari guru dengan wajah yang tertunduk malu.
“Huuu…!!! Si culun nilainya paling jeblok!!! Biasanya kalau culun itu pinter, lha ini malah lawan katanya…!! Hahaha…” tawa Ricky orang paling cerewet di kelas X-2. Pelajaran masih berlangsung, selang beberapa menit kemudian bel istirahatpun berbunyi. Clarissa segera beranjak ke mushola untuk menunaikan shalat dhuha. Selama Clarissa shalat, Ecky selalu memperhatikannya.
Hebat tu cewek, di tengah – tengah sibuknya urusan sekolah masih aja bisa shalat. Udah manis, cantik, pintar, solikhah pula, hebat!!!
Ujar Ecky dalam hati. Tiba – tiba dari belakang Ricky mengkagetkan Ecky yang sedang melamun sambil tersenyum – senyum sendiri.
“Woi!! Hayoo, ngeliatin siapa? Pasti cewek alim mantan pondok itu ya?”
“Astaghfirullah!!!”
“Yah, tumben nyebut! Ketularan cewek alim itu ya??!! Atau jangan – jangan kamu suka sama dia, jadi kamu ikut – ikutan alim…”
“Yee, kata siapa aku suka sama tu cewek?”
“Kata hatiku, dan firasat ku berkata bahwa kamu suka sama tu cewek. Ya kan? Udah deh, ngaku aja, gak usah malu – malu.”
“Ah, gak kok, ngaco aja sih kamu Ric!!”
“Udahlah, aku itu shabat mu. Jadi aku tau gerak gerik mu kalau lagi suka sama cewek.” oceh Ricky. Tiba – tiba Clarissa keluar dari mushola.
“Permisi, assalamu’alaikum.” Salam Clarissa pada mereka berdua.
“Wa’alaikumsalam.” Jawab mereka berdua hampir bersamaan. Clarissapun lewat di depan mereka. Tiba – tiba Ecky menarik lengan Clarissa. Clarissapun marah – marah.
“Heh, kamu ngapain sih!! Jangan pegang aku bisa gak?! Kita ini bukan muhrim.”
“Sorry Riss, aku lupa.”
“Ya, tapi jangan di ulangi lagi. Ada perlu apa?”
“Gini Riss, aku mau ngomong sesuatu.”
“Ya ngomong aja lah, apa susahnya.”
“Bukan gitu Riss, aku mau ngomong, tapi gak disini.” Ucap Ecky gugup.
“Ya lalu dimana?”
“Ntar aja gimana, pas pulang. Ntar kita jalan bareng.”
“Ya deh, udah kan?”
“Ya, ya, udah..” sahut Ecky. Clarissapun segera kembali ke kelas.
***
Bel pulang bersahut – sahutan. Siswa siswi berhamburan keluar kelas. Eckypun segera menghampiri Clarissa.
“Ayo pulang Riss!!”
“Ayo, tadi kamu mau bilang apa Ky?” tanya Clarissa sambil berjalan.
“Jadi gini Riss, aku mau ngomong sesuatu yang mungkin menurut mu tidaklah penting.”
“Apaan?”
“Tentang perasaan ku Riss…”
“Emangnya perasaan mu kenapa Ky?”
“Aku sebel sama someone Riss,”
“Kenapa sebel?” tanya Clarissa bingung.
“Ya karena ada sesuatu.”
“Emang seseorangnya itu siapa Ky?”
“Kamu.”
“Aku? Emang kenapa kamu sebel sama aku? Aku punya salah apa sama kamu?”
“Ya aku sebel sama kamu, karena kayaknya aku suka sama kamu Riss, aku senang betul sama kamu Riss, mau gak jadi cewek ku?”
“Sorry gak bisa jawab sekarang. Assalamu’alaikum.” Ucap Clarissa datar sambil mengambil langkah cepat menuju rumah dan meninggalkan Ecky. Ecky hanya diam melihatnya berlalu menuju kediamannya.
***
Di rumah. Clarissa menangis dan membaringkan badannya di ranjang. Iapun di datangi oleh ibunya.
“Ada apa Ris?”
“Ibu!!!” ujarnya sambil memeluk ibunya.
“Kenapa? Tumben kamu nangis,”
“Ibu, Rissa gak suka pacaran!”
“Ya bagus dong Riss,”
“Tapi bu, ada seorang cowok yang meminta ku untuk jadi ceweknya bu. Aku gak suka!!”
“Oh gitu ya, ya udah kalau kamu gak suka, ya bilang sejujur – jujurnya sama teman kamu itu. Bilang kalau kamu gak suka yang namanya pacaran.”
“Iya deh bu. Makasih ya,”
***
Keesokan harinya di sekolah, Ecky mencari – cari keberadaan Clarissa.
“Ric, liat Clarissa gak?”
“Tadi dia ke mushola,”
“Thanks Ric.” ujarnya pada Ricky. Lalu ia berlari ke mushola. Sesampainya di mushola,
“Clarissa!!!” teriaknya memanggil – manggil Clarissa. Lalu Clarissa keluar dengan wajah di tekuk – tekuk.
“Kamu tu,di mushola gak boleh teriak – teriak!!! Mushola itu tempat ibadah!!”
“Iya sorry. Tapi aku butuh jawaban mu sekarang Riss!!” pinta Ecky.
“Sorry Ky, sebenarnya aku gak suka dengan yang namanya pacaran. Aku masih mau fokus belajar Ky. Aku gak mau pikiranku jadi kacau cuma gara – gara pacaran. Lagi pula pacaran itu juga di larang agama, karena sifatnya mendekati zina. Kita temenan aja kan malah lebih happy Ky, jalan sama siapa aja bisa lebih enjoy. Ya gak?!”
“Beneran tu Riss?”
“Ya bener lah masak bohong, aku lebih mementingkan study ku daripada pacaran. Pacaran itu hanya membuang – buang waktu saja.”
“Ya udah deh Riss, yang penting aku masih bisa berteman sama kamu. Aku udah happy kok.” ujar Ecky sambil tersenyum.
“Nah, gitu dong.” Ucap Clarissa sambil pergi berlalu meninggalkan Ecky yang masih berdiri di depan kelas.

~SEKIAN~

Rabu, 12 Oktober 2011

cerpen nana - friend to love


D
i pagi hari yang tampak indah ini, ada sepasang sahabat yang telah bersahabat sejak kecil dulu. Namanya Ahsay dan Iqo.
Suatu hari, Ahsay menelfon Iqo dan memintanya untuk datang ke studio musiknya.
“Hallo, Iqo?”
“Iya, ada apa Say?”
“Qo, dateng ke studio ku sekarang ya, please…”
“Oh, kamu mau latihan ya?”
“Iya, makanya kalau ada kamu kan jadi ada yang menilai penampilan ku and band.”
“Ooo, oke deh.”
“Thanks ya friend, bye…” ucap Ahsay pada Iqo. Iqo segera merapikan diri lalu berangkat ke studio Ahsay.
Sesampainya di studio. Sepi. Tidak ada orang. Iqo segera masuk menuju ruangan yang biasa digunakan Ahsay rekaman. Disana ada Ahsay sedang memainkan bass-nya.
“Hai Say…” sapa Iqo.
“Eh, udah dateng. Sini Qo.” Pinta Ahsay.
“Yang lain mana Say? Kok masih sepi?”
“Belum pada dateng. Biasa, pada kayak kebo gitu, apa lagi si Fadhil. Wah, kebo banget Qo.”
“Owh, ya gak beda sama kamu kan?”
“Enak aja, ya gak dong. Ahsay kok ngebo. Hehe.”
“Eh Say, aku pengen banget bisa nggitar, ngebass, atau orgen malah lebih gampang.”
“Mau gak aku ajarin?” tawar Ahsay.
“Mau, mau banget!!” ujar Iqo semangat. Merekapun berlatih hingga teman – teman Ahsay datang. Saat teman – teman Ahsay datang,
“Ehm… ehm… berduaan nih yee…” ledek Zida.
“Apaan sih, orang kita Cuma latihan, ya kan Qo?”
“Iya, ngawur banget sih kamu Zid,” tambah Iqo membela diri.
“Udah deh, sama kita – kita gak usah bohong…” ucap Aldi menimpali.
“Eh, apaan sih. Kita tu sahabat tau’.”
“Iya nih, melebih – lebih kan.” Seru Iqo juga.
“Eh, tapi sahabat kan juga bisa aja jadi cinta kan?” ledek Yosan.
“Tau’ ah,” ucap Iqo.
“Woi, ayo latihan!! Malah ngeledek mulu.” Ujar Ahsay. Merekapun lathan.
***
Hari berganti hari. Ahsay mulai sedikit demi sedikit merasakan rasa yang timbul dalam hatinya. Saat keluarga Ahsay mengadakan acara di Parangtritis, Ahsay mengajak Iqo pula.
“Qo, lusa keluarga ku ngadain acara di parangtritis. Kamu ikut ya Qo?” ajak Ahsay.
“Iya deh. Tapi kamu jemput aku?”
“Oke, gampang Qo. Tenang aja, bisa di atur.”
“Sipp. Ku tunggu, hehe.”
“Eh aku balik ya? Aku tadi cuma di suruh nyampe’in itu aja, bye.”
“ya…” ujar Iqo singkat. Ahsay pun berlalu pergi.
Lusapun datang. Iqo bersiap – siap untuk pergi bersama keluarga Ahsay. Sesaat kemudian, Ahsay tiba.
“Bu, Iqo mana?”
“Itu Iqo.” Ucap Ibu Iqo sambil menunjuk pada Iqo.
“Hai, Bu Iqo berangkat dulu ya?” pamit Iqo.
“Iya hati – hati ya? Say, jagain Iqo lho ya?” pesan Ibu Iqo.
“Oke Bu, pasti Ahsay jaga!!” ucap Ahsay meng-iyakan. Merekapun segera berangkat menuju lokasi.
Sesampainya di Parangtritis, mereka berjalan – jalan di pinggir pantai. Mereka bersenda gurau bersama. Ahsaypun memberanikan diri untuk mengutarakan perasaannya.
“Qo…”
“Iya, ada apa Say?”
“Emm, aku mau ngomong penting sama kamu.”
“Ngomong aja kali’.”
“Qo, setelah berhari – hari aku akhirnya merasakan ada sesuatu yang beda dihati aku. Setiap sama kamu, aku merasa lebih tenang. Aku sadar, aku suka sama kamu Qo. Mau gak kamu jadi cewek ku?”
“Emm, aku jawab kapan – kapan aja ya?”
“Sekarang aja kenapa Qo?!!”
“Butuh waktu dong,”
“Iya deh. Balik yuk, dah mulai mendung nih.” ucap Ahsay sambil menggandeng lengan Iqo.
***
Beberapa hari kemudian setelah acara keluarga Ahsay. Ahsay duduk – duduk di teras depan rumahnya. Tiba – tiba handphonenya bordering tanda sms masuk.
“Iqo, yess..!!!” sorak Ahsay.
Message from : iQo
Say, aku udah memutuskan. Aku mau jadi cewek kamu Say.
“Yes..!!! uhuy!!!” sorak Ahsay bahagia seraya menjawab pesan dari Iqo.
Message from : ahsay
Yess!!! Thanks ya Qo!!! Aku happy buangetz…ternyata bener kata Yosan ya?
Iqo menjawab pesan dari Ahsay.
Message from : iQo
Emang Yosan pernah bilang apa?
Ahsay menjawab.
Message from : Ahsay
“sahabat itu bisa jadi cinta”
Balasan dari Iqo.
Message from : iQo
Owh, iya ya? Hehe
Ahsay bahagia. Dan ia pun sadar. Memang cinta itu tidak dapat di tebak kapan datangnya dan pada siapa dituju.

~SEKIAN~
NB: Terinspirasi dari seorang sahabat


cerpen nana - selamat jalan sahabat

“Kring…kring…” suara telfon memanggil – manggil. Akupun segera menerimanya.
“Hallo, assalamu’alaikum. Ada yang bisa saya bantu?”
“Wa’alaikumsalam. Bisa bicara dengan Orchid?”
“Ya, saya sendiri. Siapa ya?”
“Ni aku Chid, Jasmine.”
“O, kamu. Ada apa mine?”
“Chid tolong izinin aku ya?”
“Emang kamu kenapa?”
“Aku sakit seperti biasa Chid. Aku kan gampang sakit.”
“Oh, ya deh. Gampang.”
“Ya udah gitu aja ya Chid, aku mau istirahat dulu. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.” Akupun segera menutupnya. Dan segera bersiap untuk berangkat ke sekolah.
***
Setibanya di sekolahan, aku segera duduk di bangku ku. Akupun memutar otak dan sebuah pertanyaan melintas di fikiran ku.
Kenapa ya Jasmine sering sakit – sakitan? Sakit apa sih dia?
Ujar ku dalam angan. Tiba – tiba Sandy datang menghampiriku.
“Hai Chid, kok sendiri?”
“Eh, Sandy. Iya nih, soalnya Jasmine sakit.”
“Kamu udah aku certain belum tentang Jasmine dan kak Betty?”
“Belum, emang tentang apa?”
“Gini lho, waktu mau pelantikan OSIS angkatan kita, kak Betty anak kelas Sembilan itu. Dia cerita sama aku.”
“Bilang apa?”
“Katanya, dia punya felling kalau mau jadi ketua OSIS.”
“Yah, Ge-eR amat kak Betty.”
“Terus katanya dia pengen Jasmine jadi OSIS. Tapi katanya kak Betty, Jasmine punya penyakit jantung. Jadi kak Betty pengennya dia kerjanya di kabid yang gak berat gitu.”
“Tapi, masak penyakit jantung Ndy?”
Sandy hanya menganggukkan kepala. Aku menatap lurus kedepan. Kosong. Akupun meyakinkan lagi perkataan Sandy tadi.
“Beneran gak sih Ndy?”
“Iya, tapi kata kak Betty. Gak tau juga bener atau gak.”
“Emm, ya.” Kata ku sambil menganggukkan kepala. Aku bingung tujuh keliling. Jantung? Itu penyakit yang parah. Aku khawatir pada Jasmine. Tapi aku mencoba untuk seolah – olah tidak pernah tau apa yang di alami oleh Jasmine.
***
Suatu hari, temanku Ririn dan Lily menghampiriku untuk belajar bersama di rumah ku.
“Hai Chid?” sapa Lily.
“Hai…” balasku.
“Ntar kita boleh gak belajar bareng di rumahmu?”
“Boleh aja, kapan?”
“Jam tiga habis sholat ashar ya?”
“Oke, aku tunggu ya…” jawabku singkat. Mereka menganggukkan kepala. Lalu pergi meninggalkan ku.
***
Sore harinya, mereka benar datang ke rumah ku. Di rumahku, kami belajar bersama. Sesaat kemudian, Lily bertanya pada ku.
“Lho, Jasmine gak ikut?”
Aku hanya menganggukkan kepala.
“Lho biasanya kamu belajarnya kan sama dia. Kok ini gak?”
“Kan dia sakit. Eh tapi Ama ikut, gak apa apa kan?”
“Ya gak apa apa. Eh Jasmine sakit?”
Aku kembali menanggukkan kepala.
“Eh, katanya dulu dia sakit jantung…”
“Aku udah tau.”
“Iya, kasihan lho, waktu kita masih kelas tujuh dulu dia sering kumat terus sakitnya.” Jelas Lily. Aku hanya mendengarkan. “Kalau nangis langsung tersedu – sedu. Kasihan lho Chid.” Tambahnya lagi.
Tiba – tiba Ama muncul dan mengagetkan kami bertiga.
“Woi!!! Hayo, pada ngomongin siapa?”
“Jasmine.” Jawab Ririn.
“Owh, Jasmine. Dia punya penyakit jantung kan?”
“Iya, kok kamu tahu?” tanyaku.
“Ya tahu lah. Dia aja dulu sering kumat terus di bawa ke UKS. Dan pasti di jenguk sama kak Betty dan kak Zahra.”
“Iya. Udah banyak kok Chid yang tahu.” Tambah Lily.
“Gimana dong, aku semakin khawatir sama dia. Tapi aku gak mau dia tahu kalau sebenarnya aku udah tahu semuanya. Gimana nih?”
“Ya udah, kamu semakin perhatian sama dia dan selalu ada buat dia aja. Gitu namanya sahabat.” Jawab Ama member solusi.
“Ya, aku usahain.”
“Eh, ayo belajar lagi. Malah cerita Jasmine.” ujar Ririn.
“Iya, iya…” jawab ku, Lily, dan Ama hamper bersamaan. Kamipun segera belajar kembali.
***
“Kring…kring…” telfon memanggil – manggil. Aku segera berlari menujunya dan menjawabnya.
“Halo, assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam. Ini Orchid?”
“Iya, ni siapa ya?”
“Ini aku Sandy.”
“Ngapa Ndy?”
“Jasmine Chid. Jasmine.” Suaranya tersendat – sendat oleh tangisan.
“Jasmine kenapa Ndy?”
“Jasmine masuk rumah sakit Chid.”
“Masuk rumah sakit? Rumah sakit mana?”
“Rumah sakit Sehat Sentausa, di melati 5. Ku tunggu ya Chid…”
“Ya,” pembicaraanpun terputus. Aku segera berangkat menuju rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Sandy pun berkata padaku.
“Terlambat Chid, terlambat.”
“Apanya yang terlambat Ndy?”
Sandypun menunjuk disuatu ranjang yang di kerumuni oleh banyak orang. Dan saat orang – orang itu melihatku, mereka menyingkir. Akupun berjalan menuju ranjang itu, dan membuka kain putihnya agar aku bisa melihat wajah orang itu dan…
“Jasmine, jasmine bangun!! Bangun Mine!! Jangan tinggalin aku!!!”
“Sudah Chid, percuma, Jasmine juga tidak mungkin hidup kembali.” ucap Sandy menenangkan ku. Aku masih menangis tersedu – sedu. Tiba – tiba ada seorang wanita. Cantik, anggun, dan sopan. Dia ibu Jasmine. Ibu Jasmine menghampiriku.
“Ini Orchid?”
“Iya Bu,”
“Orchid, ini dari Jasmine…” ucapnya sambil memberikan sepucuk surat dari Jasmine. Akupun membacanya.
Teruntuk sahabatku…
Chid, mungkin saat kau baca surat ini aku udah tiada. Sorry aku gak pernah cerita sama kamu…
Sebenarnya aku punya penyakit jantung stadium 4. So, sorry ya Chid, aku cuma gak mau buat kamu resah dan khawatir tentang penyakitku ini. Sekali lagi sorry ya Chid?
Jangan lupa do’ain aku ya Chid? Aku disini selalu menunggu kiriman do’a dari mu. Dan jangan lupain aku ya Chid? Miss you…
Sahabatmu
Jasmine
Air mataku pun meleleh. Deras sekali. Ingin rasanya ku putar waktu kembali. Tapi kini kau telah pergi jauh sahabat. Aku akan selalu mengenangmu sahabat. Dan akan selalu mendo’akan mu sahabat. Semoga kamu tenang di sisi-Nya. Selamat jalan sahabatku. Selamat tinggal.

~SEKIAN~