Noval. Itulah namaku. Aku punya teman baik, sangat baik malah. Ia bernama Amir. Amir sangat mengerti tentangku. Diapun selalu menasehatiku saat tingkahku tak menentu.
Kini, apapun terbalik. Yang dulunya dia selalu menasehatiku. Kini berbalik menjadi aku yang mengingatkannya. Dia berubah drastis. Tapi sayang, kami sudah tak bersekolah di satu sekolah yang sama lagi. Aku hanya dapat mengingatkannya melalui media telfon.
Suatu waktu, saat aku tidak ada kegiatan, aku menyempatkan diri untuk menelfon Amir teman baikku.
“Assalamu’alaikum.” Salamku.
“Wa’alaikumsalam, siapa ini?” tanya ayah Amir.
“Ini saya Pak, Noval. Amir ada Pak?”
“Ya masih sekolah to nak Noval, nanti jam dua baru pulang.”
“Oh, ya sudah Pak terima kasih, nanti saya hubungi lagi. Assalamu’alaikum,”
“Ya, ya, wa’alaikumsalam.”
***
Kini aku merasa makin dewasa. Tapi lama kelamaan akupun merasa bahwa ada yang berubah pada diri Amir. Ketika aku pulang ke rumah, aku menelfonnya.
“Assalamu’alaikum.” Salamku.
“Wa’alaikumsalam, siapa ini?”
“Ini Noval Pak,”
“Cari Amir ya? Amir belum bangun tuh,”
“Bisa minta tolong di bangunin gak pak?”
“Bentar…” “Amir, bangun, ini Noval telfon ni!!” ucap Ayah Amir yang terdengar dalam telfon. “Amir gak mau bangun Val, nanti aja telfon lagi.”
“Oh ya sudah Pak, terima kasih.” Akupun mengakhiri pembicaraan via telfon. Siang hari tiba, akupun mencoba menelfonnya kembali. Tapi, hasilnya nihil, aku lagi – lagi tak bertemu dengan Amir.
“Amir tadi pergi sama teman – temannya.” Begitulah kata ibu Amir setelah aku bertanya tentang keberadaan Amir.
“Oh ya sudah Bu,” ujarku mengakhiri. Ada apa ya dengan Amir? Mengapa dia jadi susah di hubungi akhir – akhir ini.
***
Hari liburan datang. Aku segera mengambil motor dan melaju ke rumah Amir. Aku berniat menyambung tali persaudaraan antara kami.
Sesampainya disana, aku hanya mendapati rumah yang sepi sepeti tanpa penghuni. Aku hanya mendengar suara yang samar – samar tak jelas. Aku memberanikan diri untuk tetap masuk kedalam rumahnya.
“Astaghfirullah!!” ucap Noval ketika melihat Amir memakai barang – barang haram tersebut.
“Hai Val, lama kita gak jumpa. Ayo gabung sama kita – kita.”
“Dimana ibu mu Mir?”
“Kamu belum tahu ya? Dia udah mati!!”
“Kamu apa – apaan sih Mir!! Barang ini dilarang oleh hukum Negara maupun islam!! Cowok macam apa kamu ini Mir??!!!”
“Emang penting ya?? Suka – suka dong..”
“Ibu mu bakalan sedih Mir kalau kamu kayak gini terus.”
“Biarin, yang pentingkang asoy..!!!” ujarnya sambil tertawa terbahak – bahak. Novalpun memutuskan untuk pergi dari rumahnnya.
***
Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Dan tahunpun telah berganti tahun. Aku masih selalu membujuknya agar tidak lagi mengkonsumsi barang – barang tersebut. Tapi semua itu tak ia gubris sedikitpun. Akupun hanya bisa menasehati dan menasehatinya.
Semoga saja pembaca tidak seperti itu, amin.!!
~SEKIAN~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar