Rabu, 12 Oktober 2011

cerpen nana - boarding school

Di suatu pagi, Mira sedang berkemas – kemas karena akan bersekolah di pondok pesantren modern di Yogyakarta.
“Ayah, Bunda, Mira udah gak sabar lagi untuk sekolah berasrama!”
“Maka dari itu, disana nanti belajar yang rajin ya, biar bisa buat Ayah dan Bunda bangga.” Ujar Bunda.
Setelah semua siap, merekapun berangkat menuju pondok modern tersebut. Sesampainya disana, setelah menurunkan barang – barang Mira, kedua orang tua Mirapun pergi meninggalkannya. Beberapa saat kemudian, ada teman sebayanya yang menghampirinya.
“Hai, kenalin, namaku Dina, Aidina Maharani lengkapnya. Namamu siapa?” tanya Dina.
“Nama ku Mira. Mira Widianti. Asal kamu dari mana Din?”
“Asalku dari Yogyakarta. Kamu?”
“Kalau aku dari Bandung.”
Akhirnya merekapun menjadi sahabat.
***
Kini, Mira sedang menghadapi ujian semester. Karena ia termasuk anak yang pandai, jadi temannya pun ada yang iri padanya. Dia bernama Khusna, Khusna Nur Hayati.
Sekarang waktunya Mira untuk menunggu hasil dari kerja kerasnya selama ini. Karena besok adalah hari penerimaan raport yang menentukan Mira akan naik kelas ataukah tinggal kelas.
Hari dimana Mira mengambil raportnya.
“Ya Allah,semoga aku bisa naik kelas dengan nilai yang memuaskan Ya Allah… Amin..”  do’a Mira.
Beberapa saat kemudian, Mira di panggil namanya oleh ustadz.
“Mira Widianti.” Panggil ustadz.
“Ya ustadz,” jawab Mira. Mira belum berani untuk membuka raportnya. Dan setelah semua murid di panggil,
“Sekarang, ustadz akan memanggil juara satu sampai tiga. Yang di panggil maju ke depan ya. Juara tiga, Neni Hendriani. Juara dua, Aidina Maharani. Juara satu, Mira Widianti.”
“plok…plok…plok…” suara tepukan tangan itu bersahut – sahutan terdengar keras sekali di telingaku. Aku tidak menyangka jadi juara pertama.
Sesampainya di asrama.
“Gak nyangka ya Din, kita dapat juara kelas.”
“Iya Mir, gak nyanka ya.”
“Padahal aku tadi takut banget kalau aku gak naik kelas. Padahal dulu aku gak pernah dapat juara lho. Ini mukjizat bagi ku Din,”
“Ya, syukur deh Mir.” ucapnya sambil tersenyum bangga. Begitu pula Mira.
Semenjak Mira sering mendapat juara satu, baik di ulangan harian ataupun ujian semester, banyak pula anak yang iri padanya. Saking irinya, mereka selalu menjahili Mira dan Dina.
Seiring berjalannya waktu, mereka kena batunya sendiri. Merekapun berhenti menjahili Mira dan Dina, dan meminta maaf.
“Mir, Din, kita minta maaf ya? Semestinya kita mencontoh kalian, bukannya malah ngerjain kalian. Sorry banget ya? Maukan kalian jadi temen kita?”
“Ya mau dong, banyak temen itu kan lebih baik.”
“Bener?” ucap mereka kurang yakin. Mira dan Dina hanya mengangguk dan tersenyum pada mereka. Merekapun tertawa bersama – sama. Mentertawai tingkah mereka saat menjahili Mira dan Dina. Dan saat mereka kena batunya.
***

~SEKIAN~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar