Rabu, 23 Mei 2012

Dua Cinta Antara Tembok Kelas


Mentari siang hari seakan menampar dunia. Menembus genting-genting yang senantiasa menjaga manusia yang berada dibawahnya. Hingga membuat butiran keringat menetes dibadanku. Alunan nada guru yang memberikan materi menembus liang telingaku dan memukul gendang telinga ini, kemudian diteruskan keberbagai organ pendengaran dan sampailah ke otak.
“Kok nggak selesai-selesai ya Na?” tanya ku pada Luna.
“Sabar dong Fit, sepuluh menit lagi kok.” jawab Luna. Aku kembali terdiam menatap kosong kedepan. Aku tak dapat mengkonsentrasikan otak ini ke pelajaran yang sedang ku hadapi. Fikiranku sedang tertuju pada satu rasa, yaitu cinta. Setelah ku alami patah hati yang menaun, kini ku hendak mencoba untuk membuka hati dan  memberi kesempatan pada orang yang tulus mencintaiku.
Teet…tettt… bel istirahat melantunkan iramanya. Aku tersadar dari lamunanku tentang cinta. Aku memilih duduk-duduk di dalam kelas bersama Selly, Luna, dan Dina. Hanya duduk memainkan handphone yang ada di tangan ku.
“Nggak ada sms dari mas mantan nih, hehe.” keluhku pada ketiga sahabatku dengan nada bercanda.
“Ah kamu ni Fit, dulu pingin putus, pas udah putus malah ngarepin dia lagi.” komentar Dina.
“Hehe, iya sih. Udah lah, orang aku cuma bercanda, hehe.” ujarku mempertahankan ucapanku dahulu. Aku kembali memainkan tombol-tombol handphoneku, hingga tanpa sadar terangkai sudah nomer hp mas Diko mantanku.
“Ah, mungkinkah aku masih mengharapkannya? Lupakan Fita, lupakan dia!” ucapku dalam batin. Ku merapikan kembali hati dan fikiranku agar sejalan. Tiba-tiba seseorang memanggilku dari balik tembok kelas ini, ku lihat dari jendela siapa yang memanggilku. Ah, ternyata Zainal.
“Ada apa Zain?” tanyaku padanya.
“Emm, ada sesuatu… Emm, yang mau aku… Bicarakan… Padamu.” ucapnya dengan suara yang sedikit terputus-putus karena gugup.
“Ya ngomong aja dong Zain,”
“Nggak bisa kalo disini, ramai.” ucapnya sambil melihat ke sekelilingnya.
“Nggakpapa Zain, ini lumayan sepi kok.”
“Emm, baiklah. Aku bener-bener suka sama kamu Fit, percaya deh. Kamu mau kan jadi cewek ku? Aku nggak pengen kamu tolak lagi,” ujarnya dengan cepat dan wajah yang penuh dengan keringat. Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya yang sering dia ucapkan padaku.
“Masuk kelas dulu sini, aku omongin something.” ujarku memintanya untuk masuk ke dalam kelas, masak ngobrol tentang hati kok terhalang tembok. Dengan langkah mantap, Zain masuk kedalam kelas dan menuju ke bangku belakangku. Ia duduk dan menatapku penuh harap.
“Kamu mau jawaban YA, atau TIDAK?” tanyaku dengan sedikit menekan kata YA dan TIDAK.
“Yaa, ya aku sih pengennya kamu jawab YA. Aku hampir putus asa karena kamu tolak terus.”
Aku diam sejenak, mencoba memutar otak untuk jawabanku kali ini. Antara ya dan tidak. Jika ku tidak bangkit dalam keterpurukanku, bagaimana aku kelak jalani hidup? Aku tak mungkin hanya menaruh harapan yang tak pasti kan terwujud. Mungkin aku harus mencoba untuk suka pada Zainal. Aku harus mampu membuka hati untuk lainnya. Ya, mungkin inilah jawabannya.
“Oke, kita jalani aja deh Zain. Biarkan mengalir seperti air. Rasa itu bisa saja kan datang karena terbiasa.” ujarku tenang dan mantap. Senyum manis yang tlah lama lenyap, saat ini dapat mengembang diwajahku. Ku coba untuk cintai dia.

~SELESAI~

Jumat, 06 Januari 2012

cerpen nana - Love False

Panggil saja dia Zah. Lengkapnya adalah Zahra. Ia adalah seorang siswi di PonPes Az-Zahra, di daerah Jakarta Selatan. Ia berparas cantik, dan dia pun berperilaku lembut. Ia memiliki suara nan indah ketika ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Suara merdunya mampu menyihir para santriawan PonPes putra Az-Zahra.
Suatu hari ketika Zah berangkat sekolah, ada salah satu siswa PonPes putra Az-Zahra menghampiri Zah.
“Hai Zah, berangkat bareng yuk!” ajak siswa yang bernama Dhaffa.
“Eh Fa, ya boleh. Ayo!” ujar Zah mengiyakan. Sambil menikmati perjalanan ke sekolah di bus, Dhaffa bertanya banyak hal kepada Zah.
“Zah,”
“Ya?”
“Kamu pernah pacaran?”
“Pernah Fa, kenapa?”
“Nggak papa kok, berapa kali ?”
“Sekali.”
“Nggak nyari lagi? Aku mau kok daftar, hehe.”
“Hehe, bercanda aja sih kamu. Lagi nggak pengen nyari kok Fa.”
“Eh, aku nggak bercanda Zah. Dari dulu aku selalu serius ngomong gini ke kamu.”
“Belum tahu Fa.”
“Ya udah, kamu boleh mikir mikir dulu kok. Dari dulu sampai sekarang, atau sampai kapanpun, aku akan selalu menunggu jawaban YA dari kamu.”
Zah hanya tersenyum menanggapi ucapan Dhaffa yang terlalu sering ia ungkapkan itu. Hingga akhirnya bus berhenti di muka gerbang sekolah. Zah dan Dhaffa segera turun dari bus dan masuk menuju ke kelas masing-masing.
***
Di PonPes, Zah sedang berkumpul dengan para siswi sekamarnya di kamar. Mereka saling bertukar cerita satu sama lain.
“Zah, kemarin Dhaffa bilang sama aku, kalo dia suka berat sama aku!” tutur Lussi bercerita.
“Hehehe, nggak usah di tanggapi. Dari dulu dia juga udah bilang sama aku kalo dia naksir berat sama aku, tadi dia juga bilang gitu sama aku pas berangkat sekolah. Tapi nggak tak gagas.” ujar Zah mengomentari.
“Wah, bahaya nih kalo ada cowok yang kayak gitu. Jangan-jangan dia player lagi??” ujar Nura memberi komentar juga. Suasana hening sejenak. Semua saling bertatapan. Lalu tiba-tiba Lussi berkata,
“Gimana kalo kita buat dia kapok?”
“Kapok? Gimana caranya Lus?” tanya Zah kurang mengerti maksud dari pembicaraan Lussi.
“Ya caranya, waktu kamu di tembak Dhaffa, kamu terima dia. Lalu, suatu saat kamu putusin dia, terus gentian aku yang gituin dia.” ucap Lussi sambil tersenyum lebar.
“Kayak gitu caranya?” ujar Zah sedikit ragu.
“Iya lah, deal?” tutur Lussi.
“Deal!!” tambah Nura. Zah masih diam dalam bimbang. Ia bingung dengan keputusan apa yang harus ia perbuat. Ia tak biasa membuat orang sakit hati. Namun dengan berat hati, Zah pun berkata,
“Deal…” dengan suara lirih.
“Nah, gitu dong Zah. Jawab gitu doang mikirnya setahun.” ujar Nura. Lussi tersenyum. Zah masih membisu seolah menyesal dengan apa yang ia ucapkan. Lalu Zah segera pergi dari kamar.
***
Malam segera datang bersama ribuan juta bintang di langit dan satu bulan yang menerangi. Cahaya bulan seolah menerobos masuk ke dalam celah celah ruang di PonPes Az-Zahra malam ini. Bulan nan indah yang terselimuti gelapnya langit membuat Zah sedikit tersenyum menikmatinya. Ia sedang tak di PonPes saat ini. Ia sedang menikmati indahnya malam bersama rekannya Nura. Namun saat Zah sedang berjalan menuju PonPes,
“Zah,” ucap Dhaffa secara tiba-tiba.
“Eh, kamu Fa. Ada apa?”
“Gimana dengan tawaranku selama ini Zah? Kamu mau nggak jadi pacar aku, untuk mengisi ruang hati ku yang kosong ini?”
“udah, terima aja Zah! Inget kan perjanjian kita?” bisik Nura.
“Iya!” ucap Zah secara lantang. Namun tanpa Dhaffa dan Nura sadari, butiran bening membendung di mata Zah.
“Makasih Zah.” ujar Dhaffa dengan gembira.
“Ya udah, Zah mau pulang dulu ya Fa. Assalamu’alaikum.” ujar Zah dengan mata yang masih membendung butiran air mata. Zah sedikit berlari menuju PonPes. Nura hanya mengekor pada Zah.
Di kamar.
“Kamu kenapa Zah?” tanya Lussi. Zah hanya diam.
“Dia habis terima cintanya Dhaffa, Lus.” jelas Nura.
“Ya bagus dong Zah. Lebih cepat kita buat dia kapok. Ngapain mesti nangis?” tanya Lussi. Zah masih terdiam, namun mulai beranjak meninggalkan kamarnya.
***
Esoknya di sekolah, Zah masih terdiam dengan matanya yang berkaca-kaca. Ia duduk menyendiri di depan kelasnya. Lalu tiga orang sahabatnya menghampiri Zah.
“Zah, lu ngapa sih kok diem?” tanya Zeefa. Zah hanya menggelengkan kepalanya.
“Lu cerita kek ke kita-kita! Sharing gitu.” tambah Arda. Zah hanya merespon dengan senyuman kecutnya.
“Lu kira diem bisa nyelesaiin masalah apa? Kalo lu diem, sama aja lu siksa diri lu sendiri!” tambah pula Nahla.
Sambil menghela nafas, “Oke, gua akan cerita.” ujar Zah.
“Nah, cerita dong Zah.” ujar Zeefa.
“Jadi, gua sekarang lagi pacaran sama cowok yang sama sekali nggak gua suka.” ucap Zah mulai menjelaskan.
“Terus?” ujar Nahla.
“Semua ini menyiksa ku.” lanjut Zah.
“Kenapa lu terima kalo lu nggak suka?” tanya Arda.
“Ini semua terjadi karena sebuah perjanjian. Perjanjian antara gua en temen-temen sekamar gua di pondok...” ujar Zah menerangkan panjang lebar.
“Lu juga sih, ngapain juga lu terima tawaran mereka kalo lu nggak suka? Kayak gini kan yang kasihan si Dhaffa.” ucap Zeefa.
“Iya gua tau kalo gua salah. Gimana cara putusin dia? Gua kasihan sama dia.” ujar Zah.
“Dalam urusan cinta, nggak ada tuh kamusnya kata KASIHAN!! Cinta itu dari hati, bukan karena iba, Zah!” ucap Nahla dengan menekan kata KASIHAN pada Zah.
“Baiklah gua akan berusaha untuk ngomong jujur ke Dhaffa.”
“Nah, gitu dong Zah!” teriak Arda. Zah tersenyum lega.
“Tapi, kalo lu nggak suka Dhaffa lu suka sama siapa dong Zah?” tanya Zeefa.
“Gua suka, Rasya!” ucap Zah sedikit malu malu.
“Ooh, jadi lu suka Rasya!” ucap Nahla dan Zeefa hampir bebarengan.
“Lah, nggak usah lebay deh lu pada! Haha.” ujar Arda. Zah tersenyum sangat lega. Kini permasalahannya dapat terselesaikan.

~THE END~

cerpen nana - my wrong

Kejadian ini dimulai ketika aku bertindak seenaknya saja terhadap uang. Uang yang saat ini sangat ku butuhkan, malah ku sepelekan begitu saja. Sekolahan ku yang kurang aman ini pun menjadi salah satu factor utama kejadian ini.
***
Aku berasal dari keluarga menengah ke bawah. Aku sadar akan kekurangan ku itu. Namun aku tak ingin terlihat rendah dimata teman-teman ku dan guru-guru ku.
Ayah dan ibuku kini tak lagi bekerja. Mereka semakin menua, hingga tak sanggup lagi bekerja untuk menghidupiku. Lalu dengan ikhlas, ke-dua kakak ku mengambil alih peran ayah dan ibu ku. Mereka bekerja demi untuk menghidupiku dan untuk biaya sekolah ku.
Aku senang mengikuti berbagai macam kegiatan. Baik ekskul maupun non-ekskul. Namun ke-dua kakak ku sangat menentang keputusan ku untuk memiliki kegiatan yang full a long day. Dengan usaha ku menabung, aku mampu membiayai jalannya kegiatan-kegiatan itu.
Banyak orang yang benci padaku. Namun tak sedikit pula yang senang pada ku. Layaknya orang hidup di dunia ini, tak ada yang sempurna. Maka jelas saja setiap orang pasti ada yang tidak menyukainya.
Aku mempunyai seorang pacar. Pacar yang tak ku ingin kan. Dia adalah obat dari rasa suka ku ke orang lain yang bertepuk sebelah tangan. Namun ku mencoba untuk benar-benar mencintai pacarku. Dia adalah Nofal. Dia terlalu baik untukku. Bahkan dalam membantuku menyelesaikan problema ini. Dia pun selalu mengingatkan ku ketika aku berbuat salah.
Panggil saja aku Dhena. Aku adalah salah satu cewek dari sekian ribu cewek yang menurutku “temperamental”. Ku akui aku egois. Dan aku selalu ingin tampil lebih dari orang lain. Dan yang membuat ku melambung saat ini adalah jabatan yang ku sandang kini. Aku menjabat sebagai bendahara II OSIS. Wow !!! hidupku serasa bersanding selalu dengan uang.
***
“Dhena? Kamu di tunjuk jadi bendahara I di kelas tadi!” ujar Zee padaku.
“Apa? Gila apa ya? Aku kan udah jadi bendahara di OSIS,”
“Ya nggak tahu, tadi yang nunjuk Pak Sis kok.”
“Huhh, ya udah deh.” ujarku mencoba menerima amanah yang di limpahkan padaku.
Saat istirahat, aku segera menemui Siska teman baikku.
“Ka, gila! Masak aku dijadiin bendahara I di kelas, padahal kamu tahu sendiri kan aku ini udah jadi bendahara OSIS??” ujarku dengan lantang.
“Nikmatin aja dong.” ucap Siska enteng dan tak menggubris ocehan ku.
“Tapi coba kamu jadi aku! Huuhh, bisa gila aku!” ujarku semakin keras. Siska hanya tersenyum merespon ocehanku.
“Huhh, ya udah lah ya! Aku ke kelas dulu!”
Akhirnya akupun memutuskan untuk kembali ke kelas, karena sepertinya Siska tak menggubris omonganku.
***
Berbulan-bulan hidupku berkesinambungan dengan uang. Tak terasa uang yang aku bawa semakin hari semakin menyusut jumlahnya. Entah hilang, entah apa. Dan aku merasa, uangnya hilang!
Saat pelajaran di kelas.
“Dhena Cantika Putri?” panggil Bu Mus, guru biologi.
“Ya, saya Bu?” ujarku seraya tunjuk atap.
“Sini Dhen,” pinta Bu Mus. Akupun segera melangkahkan kaki menuju meja guru di depan kelas.
“Ada apa Bu?” tanya ku.
“Kenapa uang LKS Biologi belum juga kamu bayar kan ke saya ?”
“Maaf Bu, setiap saya mau bayar kan, ibu selalu tidak ada.” Ujarku member alasan.
“Oh ya sudah, kalau bisa secepatnya ya Dhen.”
Aku hanya menganggukkan kepala lalu kembali ke tempat duduk. Bu Mus pun memulai pelajaran hari ini.
Jam pelajaran Biologi usai. Kini saat pelajaran PKn, dan Pak Sis pun beraksi. Aku harus kabur, secara males banget aku menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang di ajukan Pak Sis kepadaku seputar uang. Dan aku lebih memilih bercengkrama dengan teman ku yang jaga di ruang OSIS.
Saat istirahat tiba, Fita menyapa ku seraya berkata.
“Hei, kamu tadi di cariin Pak Sis lhoh! Ngilang kemana kamu?”
“Di ruang OSIS, hehe. Males banget aku ketemu Pak Sis, paling cumin di sodorin sederet pertanyaan seputar uang kelas.”
“Lhoh, emang kenapa Dhen?” tanya Fita agak bingung.
“Ah, nggak kenapa kenapa kok. Udah ah, aku mau ke kantin dulu.” ujarku seraya pergi Fita.
Di kantin, aku bertemu dengan Yona. Dia juga teman baikku. Aku menceritakan semuanya kepada Yona.
“Yon, aku mau cerita.”
“Ya, apa?”
“Uang kelas kan aku yang pegang, entah mengapa uang itu nggak ada semua!”
“Lhoh, kok bisa?”
“Aku juga nggak tahu Yon. coba kamu bayangin deh Yon, masak hilang semua itu kan mustahil banget!”
“Kamu teledor sih kalo bawa duit,”
“Ya kamu jangan nyalahin aku gitu dong Yon! kasih solusi kek atau apa kek, ini malah nyalahin aku! Duh, aku mesti gimana ya?”
“Ya sorry aja, aku nggak tahu.”
“Huh, ya udah deh.” ujarku lalu meninggalkan kantin.
“Lho kamu nggak makan?” tanya Yona.
“Nggak lah, udah nggak mood.” lalu ku pergi dari lokasi.
***
Keesokan harinya, aku kembali enggan untuk bertemu guru guru tertentu. Aku pun memutuskan untuk tidak mengikuti beberapa mata pelajaran yang gurunya bisa dibilang ‘killer’ itu.
“Dhen, kamu kok ada disini?” tanya Siska padaku.
“Aku bolos pelajaran! Hehe,”
“Kenapa?”
“Nggak apa apa, males aja ketemu guru guru tertentu.”
“Rupanya kamu menghindar terus tho Dhen? Kamu nggak inget ya dulu, kamu sukanya nasehatin aku agar aku menghadapi masalah itu, bukannya malah menghindar dari masalah!” tanya Yona yang tiba-tiba berdiri di samping Siska.
“Iya aku tahu, tapi…” pembicaraan ku terpotong, “udah lah, aku lagi buru-buru.” kilahku seraya pergi meninggalkan Siska dan Yona. Aku segera kembali ke kelas, karena bel istirahat telah bernyanyi.
“Dhen, uang kelas sama buku catatannya mana? Aku mau ngecek dulu sama catatan ku.” ujar Zahra, bendahara II di kelasku.
“Duh, lupa nggak aku bawa Ra. Sorry!” ucapku enteng.
“Lupa terus deh perasaan. Eh, tadi Bu Mus nanyain uang LKS mapelnya dia, emang belum kamu bayarin ya?”
Aku hanya menggeleng.
“Kenapa nggak kamu bayar, bayar?” tanya Zahra pula.
Aku diam sejenak. Lalu aku pun meledak, “Uangnya itu hilang Zahra!! Jelas!! Udah lah kamu nggak usah ngurusin aku!! Tenang aja, pasti akan aku ganti!!” ujarku dengan lantang dan meledak ledak penuh amarah dan emosi.
“Tapi itu adalah masalah kelas juga Dhen, kan bisa dibicarakan bersama.”
“Aku bisa atasi sendiri!!!” ucapku, lalu aku segera meninggalkan ruang kelas.
***
Kesalahan ku yang berlarut larut ini, kini mampu menyeretku ke meja persidangan BK sekolahan ku. Dengan disidang oleh tiga orang guru BK yang ‘killer’, mampu menciptakan butiran-butiran bening menetes di pipi ku, karena ku tak mampu untuk membendungnya lagi.
Rasa sesal yang teramat dalam kini ku rasakan begitu pahit, karena ku telah menyepelekan kasus ini. Aku mulai merasakan rasa salah yang begitu menyayat hati.
Kasus mengenai uang ini benar benar mampu membuat ku sedikit gila! Kasus ini adalah kasus terberat yang pernah ku hadapi. Aku berharap, tak aka nada kejadian semacam ini lagi yang menimpaku.
~THE END~